Jumat, 05 Mei 2017

Destinasi Pati Bumi Mina Tani

Ziarah dan napak tilas Adipati Pragola II

Situs Kuno Kabupaten Pati, Makam Adipati Pragola II

Pada Tahun 1601 M setelah penguasa Mataram ( Panembahan Senopati ) wafat, tampuk kekuasaan diserahkan kepada putranya Mas Jolang ( Pangeran Sedo Krapyak ). dan setelah Pangeran Sedo Krapyak ini wafat, kekuasaan jatuh kepada putranya yang bernama Raden Mas Anyokrokusumo, yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, memerintah sekitar tahun 1613 - 1645. Cucu Panembahan Senopati ini memimpin dengan bijaksana sehingga Mataram sangat terkenal.
Berdasar buku sejarah Pati, untuk mengetahui sejarah Adipati Pragola II ini terlebih dahulu kita melihat sejarah Ki Ageng Penjawi, Siapakah sebenarnya Ki Ageng Penjawi ini ?. Ki Ageng Penjawi adalah salah seorang keturunan ke 5 dari Bhre Kertabhumi dari keturunan Ki Ageng Ngerang ( tokoh penyebar Islam diwilayah timur Pati sekitar Juwana yang merupakan guru dari Sunan Muria ). bersama dengan Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Mertani, Ki Ageng Penjawi ini menjadi tokoh kepercayaan dari Sultan Hadiwijaya alias Mas Karebet atau Jaka Tingkir yang saat itu berkuasa di Pajang. Nah pada saat Panembahan Senopati ( anak dari Ki Ageng Pemanahan ) awal membangun Mataram di Kotagede Yogjakarta, Ki Ageng Penjawi ini menjadi Adipati Pati dan akan berputra Adipati Pragola I. Dari Adipati Pragola I inilah lahir putra yang dijuluki Adipati Pragola II .
Pada saat Mataram berganti penguasa dari Pangeran Sedo Krapyak ke Raden Mas Anyokrokusumo, di Kadipaten Pati juga terjadi suksesi kepemimpinan, dari Adipati Pragola I yang udzur karena tua ke putranya yang terkenal dan bergelar Adipati Pragola II.
Adipati Pragola II mempunyai istri bernama Raden Ajeng Tulak / Ratu Mas Sekar yang tak lain adalah adik dari Sultan Hanyokrokusumo penguasa Mataram. sehingga dapat dikatakan kalau Adipati Pragola II adalah Ipar dari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang sama-sama merupakan keturunan Prabu Brawijaya Raja Majapahit.
Penulis didepan situs kuno makam Adipati Pragola II di Tamansari Tlogowungu Pati

Dalam menjalankan roda pemerintahan di Pati, Adipati Pragola II mendapat dukungan penuh dari enam tumenggung, keenam tumenggung tersebut adalah Tumenggung Mangunjaya, Ki Kenduruan, Ramanaggala, Tohpati, Sawunggaling dan Sindurejo. dan keenam tumenggung telah bersumpah setia  untuk membela Tanah Pati hingga darah penghabisan.
Pada saat Pisowahan Agung di kesultanan Mataram yang bersamaan dengan hari raya, yang dihadiri oleh para pembesar kesultanan dan para pimpinan dari Grobogan, Bagelan, Kudus, Kalinyamat, Demak dan Lasem.  Satu-satunya yang tidak hadir adalah dari Kadipaten Pati ( Adipati Pragola II ). padahal dalam Pisowahan Agung ini, rencananya Sultan Agung ingin membahas dan menyusun kekuatan untuk menggempur daerah Surabaya yang belum tunduk terhadap Mataram.
Ketidak hadiran Adipati Pragola II sekaligus ipar Sultan Agung  ini sama dengan alasan ayahandanya Pragola I yang menganggap Kadipaten Pati dan Mataram sama derajatnya, sehingga dalam pisowahan Agung ini Sultan Agung menjadi marah dan akan mengempur Kadipaten Pati.
Singkat cerita akibat pembangkangan  Adipati Pragola II ini, Sultan Agung memutuskan menyerbu Kadipaten Pati, dan ditunjuklah Tumenggung Alap-alap untuk membumi hanguskan Kadipaten Pati yang akan diserbu dari tiga penjuru, pasukan dari timur dipimpin Adipati Martalaya yang menyusun kekuatan di sekitar Pakuwon Juwana, pasukan dari selatan dipimpin oleh Pangeran Madura yang menyusun kekuatan di sekitar pegunungan kendeng sekitar daerah Cengkalsewu, sedang pasukan yang dari barat dipimpin oleh Pangeran Sumedang yang menyusun kekuatan didaerah Matraman Margorejo.
Adipati Pragola II dalam hal ini telah menyebarkan para telik sandi untuk melihat peta kekuatan pasukan Mataram. Adipati Pragola II juga telah mempersiapkan segalanya termasuk  memobilisasi pasukaan, apalagi seluruh rakyat Pati siap den rela mati demi Bumi Pati. Akhirnya pertempuran di tiga zona tak terhindarkan, pasukan Pati yang menuju timur dipimpin oleh Tumenggung Mangunjaya dan Tumenggung Tohpati, yang menhadang ke selatan dipimpin oleh Tumenggung Kenduran , sedangkan yang bergerak ke arah barat dipimpin oleh Adipati Pragola dengan pasukan berkudanya menyertakan Tumenggung Sindureja dan Tumenggung Sawunggaling.
Dalam pertempuran yang melelahkan dan tidak imbang jumlah prajurit Pati yang menghadapi prajurit Mataran yang berjumlah puluhan ribu, Adipati Pragola II terluka, namun tetap gagah berani melanjutkan peperangan dan meneruskan pengejaran musuh ke arah barat, sampailah pada daerah yang terdapat sumber air sani, kuda yang ditumpangi Adipati Pragola II terjatuh dan tidak dapat melanjutkan pengejaran lagi. disinilah luka Adipati Pragola II menjadi parah dan akhirnya wafat pada Jum'at Wage 4 Oktober 1627 M, dan dimakam diperbukitan di kawasan mata air sani Desa Tamansari Kec. Tlogowungu Kab. Pati.
Pusara Adipati Pragola II di kompleks pemakaman tua desa Tamansari


Diantara makam Adipati Pragola II terdapat beberapa makam tokoh Pati, diantaranya makam Kiageng Kenduruan, Kyai Pederasan, Dewi Nawangwulan, Dewi nawangsih, Pandita Panatas Angin,Sambapradan, Sambawilis, dan Kyai Giring

Dikawasan makam kuno ini terdapat Sendang Sani peninggalan Sunan Bonang. dikawasan ini pula sekarang dikembangkan obyek wisata, water boom, arena pemancingan dan sarana penunjang lainnya, diantaranya tempat parkir, wisata kuliner, gazebo dan pusat oleh-oleh.
Pintu gerbang wahana pemancingan dan wisata kuliner Sendang Tirta Marta Sani
Deretan gazebo memanjakan para pemancing

Lesehan sambil menikmati ikan bakar dengan arsitek yang cukup futuristik


Pintu gerbang Water Boom di Sendang Sani
Sendang Sani peninggalan Sunan Bonang di potret dari sisi barat
Sendang sani dipotert dari sisi utara

Bangunan cungkup yang dijadikan mushola di selatan sendang sani
Pintu gerbang menuju sendang sani

Cerita perjalanan Sunan Bonang dan asal usul sendang sani






Senin, 01 Mei 2017

Umbul Sidomukti

Umbul Sidomukti
berenang di dinginnya pegunungan

Penulis dipinggiran salah satu kolam di Umbul Sidomukti

Umbul Sidomukti merupakan kawasan wisata alam pegunungan di kaki gunung Ungaran, terletak di desa Sidomukti Kec. Bandungan Kab. Semarang dengan ketinggian 1200 dpl. untuk sampai ke kawasan ini diperlukan perjuangan dan uji nyali menyusuri tanjakan dan kelokan jalan yang menuju Umbul sidomukti, tapi tak perlu takut, kita bisa menaiki sepeda motor, mobil pribadi atau naik angkot yang sopirnya sudah terlatih di tanjakan dan kelokan dari bandungan , sambil menikmati keindahan alam pegunungan, dikanan kiri menghampar perkebunan sayur dengan para petaninya.
Setelah kurang lebih duapuluhan menit perjalanan,  sampailah kita di pintu gerbang obyek wisata Umbul Sidomukti. di area wisata ini terdapat berbagai fasilitas penunjang, diantaranya adalah Outbon training, mushola, aneka resto, camping ground, pondok lesehan, ATV, tracking pegunungan, fliying fox dan tentunya kolam renang yang terdapat sumber air asli dari pegunungan, yang airnya sampai muncrat dan mumbul-mumbul (bergolak ). mungkin dari istilah jawa mumbul inilah nama Umbul Sidomukti diberikan.
Ada empat buah kolam renang di area wisata ini, kolam satu dengan yang lainnya bertingkat. sehingga menampilkan view yang indah, berenang sambil menikmati lereng gunung Ungaran.

Sumber air yang memancar itulah asal muasal nama Umbul Sidomukti diberikan
Santai dulu ah...........
Logo dan tetenger Umbul sidomukti

Masjid Al-Irsyad

Masjid Al-Irsyad
Masjid Minimalis berbalut seni

Masjid ini terletak di Kota Baru Parahyangan Padalarang Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat, berarsitek minimalis buah karya Kang Ridwan Kamil ( Walikota Bandung saat ini ). pada saat penulis berwisata di Bumi Parahyangan, salah satu icon dan tetenger kota Bandung ini penulis singgahi.
Masjid ini sekilas tidak seperti bangunan masjid pada umumnya, berbentuk kubus dan tersusun dari bahan batako roster dan bertumpu pada rangka baja.namun setelah penulis telusuri satu persatu bagian bangunan masjid, ternyata bangunan ini penuh dengan detail yang sangat rumit. berkat kepiawaian Kang Ridwan Kamil , masjid ini menjadi sangat spektakuler.
Diresmikan pada tanggal 17 Ramadhan 1431 atau bertepatan dengan 27 Agustus 2010. mesjid Al-Irsyad ini pernah menyabet penghargaan AGA KHAN, sebuah penghargaan tertinggi bidang arsitektur.
Roster warna hitam melukiskan Laailaaha illallaah, Muhammad rasulullaah,sekaligus lubang angin

Penulis di Papan Nama Masjid Al-Irsyad


Prasasti unik berbentuk bola
Mihrob yang menghadap langsung keluar dengan sisi depan samping kanan kiri berbentuk kolam
bisa dipakai bermain dan menggoda ikan
Deretan lampu dengan hiasan kaligrafi asmaul husna
Menara minimalis yang elegan dan modern
Detail hiasan arabes pada kaki pot tanaman
Pintu utama berupa lorong, saat dimasuki mengingatkan pada saat sa'i
Mihrob dilihat dari sisi luar dengan hamparan rumput yang menghijau serta diteduhi tanaman jenis Ketapang Kencana

Jalan setapak menuju tempat wudlu dengan taburan kerikil hitam tertata cukup apik

Melihat master plan dari masjid Al-Irsyad ini :
1. Bangunan Utama kubus mengadopsi bangunan Kakbah
2. Pelataran luar masjid mengadopsi jalur Tawaf yang melingkari kakbah
3. Lampu 99 buah  dengan kaligrafi Asmaul husna
4. Pintu Utama mengadopsi lorong tempat Sa'i
5. Mihrob dengan kolam air berfilosofi " hidup sejatinya hanya mampir ngumbe (minum) " atau anjungan kapal dalam sebuah  perjalanan mengarungi lautan kehidupan menuju tujuan akhir yaitu Ridlo Allah yang dilambangkan dengan bola berkaligrafi Allah.
Subhanallah......................









Minggu, 30 April 2017

Nu Art Bandung



Ketemu Sang “Maestro Patung“ I Nyoman Nuarta di NU Art Sculpture Park – Bandung  
Penulis bersama I Nyoman Nuarta diruang kerjanya dikomplek Nuart Bandung
 

Empat belas tahun yang lalu saat penulis mengunjungi kompleks Garuda Wisnu Kencana ( GWK ) di bukit bekas penambangan kapur di wilayah Ungasan Badung  Bali, terlintas dibenak penulis bila proyek ini selesai akan banyak pengunjung yang berdecak kagum akan keindahan alam yang mempesona dipadu dengan sentuhan tangan-tangan seni yang begitu indah, spektakuler !. padahal mega proyek ini kala itu baru selesai sekitar 30 % nya saja, bayangkan bila proyek GWK ini selesai, akan menjadi patung terbesar didunia, bahkan patung liberty di AS saja  tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan patung Garuda Wisnu Kencana ini.

Saat itu penulis hanya melihat potongan patung yang sudah berdiri di tiga tempat di kompleks GWK, yaitu patung badan Wisnu, potongan dua tangan Wisnu dan potongan kepala burung garuda, dan tidak memperdulikan siapa kreatornya. Akan tetapi kemegahan patung ini selalu mengusik hati penulis, sampailah pada suatu saat penulis browsing di internet dan menemukan tokoh dibalik kemegahan GWK, ya.. dialah I Nyoman Nuarta seorang maestro patung kelahiran Tabanan Bali yang sudah sangat mendunia karena karya-karyanya yang begitu fenomenal dan sangat artistik.


Siapa sebenarnya  I Nyoman Nuarta ? :

I Nyoman Nuarta lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951 adalah pematung Indonesia dan salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru. I Nyoman Nuarta adalah putra keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan Wirjamidjana dan Samudra. I Nyoman Nuarta tumbuh dalam didikan pamannya, Ketut Dharma Susila, seorang guru seni rupa. Setelah lulus SMA, Nuarta masuk di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1972.

Awalnya Nuarta memilih jurusan seni lukis, namun setelah menempuh dua tahun dia berpindah ke jurusan seni patung. Saat masih menjadi mahasiswa pada tahun 1979, I Nyoman Nuarta memenangkan Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia, lomba ini adalah awal dari ketenaran I Nyoman Nuarta. Bersama rekan-rekan senimannya, seperti pelukis Hardi, Dede Eri Supria, Harsono, dan kritikus seni Jim Supangkat, Nyoman Nuarta tergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia sejak tahun 1977. Nyoman Nuarta mendapatkan gelar sarjana seni rupa-nya dari Institut Teknologi Bandung dan hingga kini menetap di Bandung.



Karya-karya I Nyoman Nuarta :

I Nyoman Nuarta selama ini dikenal sebagai seniman pemahat dan pematung  yang telah membuahkan ratusan karyannya yang sangat natural, terbuat dari bahan kuningan dan tembaga tersebar di kota-kota besar di Indonesia dan diluar negeri serta tersimpan di galerinya.

Sebagai seorang pematung, Nuarta telah membangun sebuah Galeri dan  Taman Patung yang diberi nama NuArt Sculpture Park. Nuarta membangun taman ini di Bandung.

beraneka bentuk patung  tersebar di areal seluas tiga hektare tersebut. Di taman tersebut dibangun gedung 4 lantai yang digunakan untuk pameran dan ruang pertemuan dengan gaya yang artistik.

Saat ini, Nyoman Nuarta merupakan pemilik dari Studio Nyoman Nuarta, Pendiri Yayasan Mandala Garuda Wisnu Kencana, Komisioner PT Garuda Adhimatra, Pengembang Proyek Mandala Garuda Wisnu Kencana di Bali, Komisioner PT Nyoman Nuarta Enterprise, serta pemilik NuArt Sculpture Park di Bandung. Nyoman Nuarta juga tergabung dalam organisasi seni patung internasional, seperti International Sculpture Center Washington (Washington, Amerika Serikat), Royal British Sculpture Society (London, Inggris), dan Steering Committee for Bali Recovery Program.

Patung Garuda Wisnu Kencana yang kini baru tahap pembangunan (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), serta Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta) merupakan beberapa dari mahakarya I Nyoman Nuarta.


Patung Jalesveva Jaya Mahe di Instalasi Militer TNI AL Surabaya

 

Prototif Patung Garuda Wisnu Kencana

Penulis disalah satu patung karya I Nyoman Nuarta di Nuart Galeri Bandung

Ketemu sang Maestro :
Keinginan untuk bisa mengunjungi kediaman I Nyoman Nuarta , NuArt Sculpture Park dan  rasa penasaran ingin melihat dari dekat bengkel kerjanya akhirnya terjawab setelah penantian yang cukup panjang, pada saat penulis berwisata ke Bandung medio akhir Desember 2016. Penulis setelah sampai di komplek  NuArt Sculpture Park langsung mengeksplor seluruh kawasan seluas tiga hektar dengan ketakjuban yang tiada henti.
Dalam kawasan tersebut dibangun Musium, Mushola, Galeri, Coffee Shop, Teater terbuka, taman patung, teater pemutaran film dokumentar GWK, Kafe dan resto, ruang pamer, toko souvenir, bengkel kerja serta rumah kediaman I Nyoman Nuarta.  pada saat penulis mengunjungi bengkel kerja ini, penulis sempat melihat beberapa pekerja sedang menyelesaikan kepala patung wisnu yang sangat raksasa. Penulis sempat berfikir kenapa kepala wisnu dibuat ulang lagi ? sementara di kompleks GWK badan dan kepala wisnu sudah jadi ?.
Belum hilang rasa penasaran, penulis mencoba mencari tahu, tapi pada siapa ? nah disaat penulis berjalan meninggalkan bengkel kerja ini, dari kejauhan ada sesosok yang saat ini ingin sekali penulis ketemu, ya... pak Nyoman Nuarta berdiri di teras ruang kerjanya yang dikelilingi kaca lebar sedang menghirup udara segar kawasan setra duta. Tanpa pikir panjang penulis bergegas menyalami dan berangkulan.
Setelah memperkenalkan diri, penulis diajak bercengkerama sambil nyeruput teh hangat yang disuguhkan langsung oleh tangan pak Nyoman Nuarta, orangnya ramah, penuh tawa ceria. Penulis diajak diskusi tentang seni, tentang keberagaman, dan tentang sejarah pribadi pak Nyoman Nuarta membangun kawasan NuArt Sculpture Park dan GWK.
Tetenger di pintu gerbang Kawasan Setra Duta buah karya I Nyoman Nuarta

Pada kesempatan ini penulis juga menanyakan progres pembangunan Kompleks GWK yang mengalami jatuh bangun, ditentang dan cibiran banyak pihak, bahkan pak I Nyoman Nuarta sampai terancam masuk penjara, sampai akhirnya ada sponsor yang mau membiayai penyelesaian kompleks GWK di Bali. Juga rasa penasaran penulis tentang pembuatan ulang patung Wisnu dan burung garuda. Ternyata dari penjelasan pak I Nyoman Nuarta, pihak sponsor menghendaki agar patung Garuda Wisnu Kencana dibuat ulang, sedangkan patung yang sudah jadi di tiga tempat di kawasan GWK dibiarkan begitu saja sebagai monumen perjuangan pembangunan GWK. Terjawab sudah rasa penasaran penulis tentang dibuat ulang nya patung wisnu dan garuda.
Penulis sempat memberi pertanyaan kepada pak I Nyoman Nuarta tentang pilihan antara Bali dan Bandung, pak Nyoman secara puitis menjawab “ Bali adalah tanah tumpah darahku, dan Bandung adalah kota tempat meniti karier dan ekspresi seniku“. Setelah pertemuan singkat itu penulis mohon pamit dan berangkulan kembali.

Alamat : Jl. Setraduta Raya No. 16 kelurahan Sarijadi Bandung 40151.
Telepon : 022-2020414, 2017812, 2017816  Fax : 022-2015362
Reservasi Restaurant  : 022-2017815
E-Mail             : info@nuartsculpturepark.com
Website           : www.nuartsculpturepark.com
Instagram        : nuartpark
Facebook         : nuartsculpturepark
Jam Buka         : Senin – Jum’at  09.00 – 18.00 WIB.
                          Sabtu – Minggu 09.00 – 21.00 WIB.