Senin, 12 Agustus 2019

Umrahku



Catatan kecil perjalanan suci ke Haromain
Bismillah Labbaikallahumma umrota Lahaula walaquwwata illaa billaah

Hari  ke I
Ahad, 11 November 2018 ( Pati - Semarang – Jakarta – Madinah )

Berangkat dari kediaman pukul 05.00 pagi menuju Bandar udara Ah. Yani Semarang, dari sinilah catatan kecil Perjalanan Suci ke Haromain aku mulai. Biro yang memberangkatkan aku adalah BKIW ( Baitullah Kota Intan Wisata ) yang beralamat di Ruko Pos Pengumben Jl. Raya Pos Pengumben N0, 10 B-A Sukabumi selatan  Kebun Jeruk Jakarta Barat 11560. Sponsor Utama adalah PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Unit Sragen & Grobogan serta Firma, Ps. Kajen Margoyoso Pati.
Dalam Rombongan ini diberangkatkan 69 jamaah dengan fasilitas VIP yang dibagi menjadi 6 pemberangkatan dari masing-masing daerah. rombongan dari Jakarta 6 jamaah, Malang 2 jamaah, Banjarmasin 1 jamaah, Yogjakarta 27 jamaah, Solo 13 jamaah, dan Semarang 20 jamaah yang kesemuanya berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng Banten.
Tepat pukul 15.25 pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA0970 terbang membawaku menuju Madinah, setelah menempuh penerbangan selama 9 jam 20 menit sampailah aku mendarat di Bandara King Mohammad bin Abdul Aziz Madinah dengan selamat, kemudian rombongan diangkut  dua bus menuju hotel setelah proses keimigrasian selesai.  Lima belas menit kemudian sampailan aku dihotel Millenium Al Aqiq Madinah, sebuah hotel bintang lima yang menghadap ke selatan persis berhadapan dengan pintu masjid Madinah no 17 dua blok dari pelataran masjid Madinah.
Aku menempati kamar no. 35  lantai 14, dimana lantai ini merupakan lantai tertinggi di hotel Millenium Al Aqiq, sehingga bila gording kamarku aku buka terlihatlah angkasa Madinah dengan menara-menara masjid Madinah yang menjulang tinggi membelah langit kota Madinah.
Millennium Al Aqiq - hotelku di Madinah Al Munawwaroh
Foto bersama sebelum menjalani tour kota Madinah


Hari  ke 2
Senin, 12 November 2018  ( Madinah )

Setelah bangun tidur, sekitar jam 03 dinihari waktu Madinah, aku bergegas menuju masjid Madinah untuk sholat tahajjut dan sholat subuh, langkahku dari hotel menuju masjid aku percepat, rasa penasaran yang amat tinggi ingin menyaksikan masjid Madinah yang selama ini hanya aku lihat di gambar, televisi dan video tiba-tiba tepat dihadapan mataku. Subhanallaah...... pecah tangisku seketika !, masjid Madinah yang aku lihat pertama kali dalam hidupku tampak megah, bermenara menjulang tinggi, bermandikan cahaya, serta berjajar payung-payung raksasa disekitar pelatarannya.
Sambil berlinangan air mata foto pertama Masjid Madinah aku ambil

Aku terus melangkah memasuki masjid, kususuri lorong masjid yang beraksitektur modern klasik, berbahan bangunan kelas satu, berpadu dengan cahaya yang menyinarinya, dilantai  berjajar galon-galon air minum zam-zam yang menyambutku untuk meminumnya, bau harum parfum mawar semerbak lembut dihidungku ,kususuri terus lorong demi lorong masjid Madinah dengan emosi melongo. Belum habis rasa takjubku, tiba-tiba Roudlah sudah berada di hadapanku, ribuan jamaah dari berbagai belahan dunia telah memadatinya, roudlah adalah sebuah bangunan asli pada masa Rosulullah, tidak lebar hanya 144 m2 . ditandai dengan karpet warna hijau tua, sementara bangunan selain raudlah ditandai dengan karpet warna merah.
Sampai disini aku masih berada dua shof menuju roudlah, tidak mudah memang menjangkau roudlah, padatnya jamaah yang membuat antrian panjang untuk bisa memasukinya, dengan tujuan yang sama sholat di bagian roudlah, aku terus berdiri sambil berlinangan air mata, menunggu bisa masuk ke roudlah, dengan terus merangsek sambil sesekali mengusap air mata yang terus menetes. Perjuanganku berbuah manis, aku diberi tempat sempit separo dari lebar sajadah orang sholat dari jamaah berkulit hitam berhati putih, aku tersenyum dan sholat tahajjut sambil menunggu subuh tiba, aku berada tepat disebelah barat dari kamar Siti Aisyah yang dijadikan makam Rosulullah dan dua sahabatnya Abu Bakar Assiddiq dan Umar al Faruq Ibnu Khottob.
di Arraudloh Assyarif

Aku terus memutar tasbih bersholawat, bertahmid, beristighfar sambir berlinangan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Betapa nikmatnya i’tikaf di roudlah ini, sesekali membayangkan dan melamun, disilah Rosulullah dulu hidup membangun peradaban Islam, menjadi imam sholat, meletakkan sendi-sendi beragama, bercengkerama dan bermusyawarah bersama dengan para sahabat-sahabat tercintanya, mengatur strategi bernegara, menjalani kehidupan selama 11 tahun di Madinah.
Sampailah kumandang adzan subuh bergema di angkasa Madinah, tangisku semakin tak terbendung, aku tak mampu lagi menahan emosiku, tangisku semakin keras, aku tak lagi memperhatikan disekitarku, air mata terus bercucuran deras mengalir. Kujalani sholat subuh sambil terus menangis, bacaan  imam sholat adalah surat Arrahman, “ Fabiai alaairobbikumaa tukadzzibaan “   maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?, seakan menyindir kita yang lalai dalam bersyukur.
Didepan Babussalam pintu no 1 yang menuju ke makam Nabi

Sehabis sholat subuh aku berebutan dan berdesakan dengan ribuan jamaah yang ingin berziarah di makam Nabi Muhammad SAW. ini adalah ziarah pertamaku di Madinah, bertemu dengan manusia agung, manusia termulya yang menjadi kekasih Allah.  tangisku pecah lagi saat tepat berada di hadapan pusara Nabi. “ Assalamu’alaikum ya ayyuhan nabiyyu warohmatullaahi wabarokaatuh, assalamu’alaikum ya Aba Bakar, assalamu’alaikum ya Umar Al Faruq, assalamualaikum warohmatullaahi wabarokaatuh “.
Setelah keluar dari berziarah ke makam Nabi, aku menyusuri disekitar masjid Madinah, untuk menapak tilas tempat-tempat bersejarah masa lalu, salah satunya adalah lokasi rumah dari sahabat Nabi Abu Ayyub Al Anshari , berlokasi kira-kira 50 meter sebelah selatan dari makam Nabi. Abu Ayyub Al Anshari adalah sahabat Anshor/Madinah yang rumahnya terpilih oleh unta Nabi  yang bernama Al Qoswah saat dilepas setelah Nabi tiba di Madinah dalam perjalanan panjang Hijrah dari Makah ke Madinah, saat itu unta Nabi ditarik-tarik penduduk Madinah agar Nabi berkenan menginap dirumahnya, maka diputuskan dimana unta Nabi berhenti, disitu Nabi akan menginap. Sungguh mujur Abu Ayyub Al Anshari, unta Al-Qoswah Nabi ternyata berhenti dirumahnya, sehingga Nabi memutuskan menginap dirumah Abu Ayyub Al Anshari selama 7 bulan, dan selama 7 bulan itu pula pembangunan masjid Madinah dan rumah Nabi selesai dibangun.
Ditempat aku berdiri ini dahulu bekas reruntuhan rumah Abu Ayyub Al Anshori

Kemudian tempat unta Nabi berhenti itu kemudian dibangun masjid Madinah dengan membeli tanah perkebunan kurma milik sepasang yatim Suhail dan Sahil, tanah itu dibeli oleh Abu Bakar Assiddiq dan diwakafkan untuk pembangunan Masjid Madinah sampai sekarang. Adapun Abu Ayyub Al Anshari meninggal dan dimakamkan  di Istambul Turkey saat mengikuti jihad tentara islam dalam rangka penaklukan constantinopel. Bangunan rumah Abu Ayyub Al Anshari yang berlantai dua itu kemudian diratakan oleh pemerintah Arab Saudi dalam rangka pelebaran pelataran pembangunan Masjid Madinah.Tempat kedua yang aku kunjungi adalah bekas makam Sayyid Abdullah bin Abdul Muntholib ayah kandung Nabi yang meninggal setelah berdagang dari Syam/Syiria, letaknya kira-kira sepuluh payung dari pintu Babussalam ke arah barat. Makam ini mengalami nasib yang sama, diratakan oleh pemerintah Arab Saudi untuk pelebaran pelataran Masjid Madinah.
Perkiraan tempat Makam Sayyid Abdullah yang sekarang jadi pelataran Masjid Madinah


Tempat ketiga yang aku kunjungi  yang tak kalah menariknya adalah Pintu Bilal bin Rabah Al Habsi disebelah timur dari pintu jibril, Bilal bin Rabah adalah budak berkulit hitam dari Habasyah/Ethiopia milik dari tokoh kafir quraisy Makah bernama Umayyah, Umayyah menyiksanya disiang bolong, tubuhnya ditelentangkan dan diikat dipadang pasir yang panas, dicambuk berkali-kali sampai Umayyah tak kuat lagi menyambuknya, tubuhnya ditindih dengan batu besar, sehingga berdarah darah, karena Bilal masuk Islam dari Ammar bin Yassir. Kemudian Bilal ditebus oleh AbuBakar dengan 400 dinar dan dimerdekakan. Bilal ini kemudian ikut Hijrah di Madinah dan menjadi Muadzzin ( tukang adzan pertama dalam Islam pada periode Madinah ). Sepeninggal Nabi, Bilal tidak lagi menjadi muadzzin, ini dikarenakan Bilal tidak mampu lagi mengucapkan lafal adzan “ Ashaduanna Muhammadar rosulullaah “, setiap kali Bilal melafalkan Ashaduanna Muhammadar rosulullaah Bilal selalu menangis teringat Nabi yang telah tiada. Bilal kemudian berdakwah di syam dan meninggal di Damasqus Syiria.
Pintu Bilal Bin Rabah Al Habsi dan prasasti pembangunan Masjid Madinah


Siang harinya setelah sholat dzuhur aku masih meneruskan penelusuran tempat tempat bersejarah lainnya, diantaranya adalah mengunjungi masjid Ghamamah ( awan ), dahulu dimasjid ini Nabi sholat minta hujan dan  sholat Idul Fitri, masjid Abu Bakar, masjid Ali, masjid Umar bin Khottob, serta masjid Bilal bin Rabah Al Habsi muadzzin Nabi. Tak ketinggalan mengunjungi taman Saqifah Bani Saidah disebelah barat masjid Madinah, Taman Syaqifah bani saidah ini milik keluarga Saidah, dahulu taman ini menjadi saksi bisu diangkatnya Abu Bakar Assyiddiq sebagai kholifah pertama sepeninggal Nabi.
Sore harinya sambil menunggu momen ditutupnya payung-payung raksasa dipelataran masjid Madinah sambil menunggu sholat magrib, aku diundang oleh orang Madinah yang sore itu membagikan takjil buka puasa sunnah hari senin, hingga pada malamnya setelah sholat isyak aku dijamu oleh jamaah umrah dari Nigeria.
Diajak Buka bersama oleh Jamaah dari Madinah
Dijamu jamaah dari Nigeria


Hari  ke 3
Selasa, 13 November 2018 ( Madinah )

Hari ketiga aku di Madinah, Sehabis sarapan pagi rombongan jamaah umrah dari PT. Japfa Comfeed Indonesia dengan dibawa 2 bus menjalani tour Madinah dan sekitarnya, tujuan pertama adalah mengunjungi Masjid Quba di desa Quba,  berjarak 6 Km sebelah selatan kota Madinah, Masjid Quba adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh Nabi dalam perjalan hijrah dari Makah ke Madinah. Sebelum masuk kota Madinah Nabi singgah di Quba  pada Senin tanggal 8 Rabiul awal tahun ke 14 kenabian, Nabi singgah di Quba ini selama 4 hari, senin, selasa, rabu dan kamis. Selama 4 hari itu rosulullah membangun Masjid Quba dan sholat didalamnya, pada hari jum’at tanggal 12 Rabiul Awal Nabi meninggalkan Quba dan memasuki gerbang Madinah tepat dihari ulang tahun kelahiran Nabi. Dipintu gerbang Kota Madinah ini telah diadakan penyambutan atas kedatangan Nabi yang sangat meriah.
Masjid Quba sekarang telah dibangun megah dengan kubah utama berjumlah 3 buah dengan menara 4 buah yang cukup menjulang , sholat sunnah dua rakaat di masjid Quba diganjar dengan pahala umrah. Quba adalah sebuah desa / wilayah yang subur, disana sini bertebaran kebun-kebun kurma dengan daun yang melambai-lambai menghijau dengan tandan buah kurma yang menjurai kebawah.
Dimasjid Quba, sebuah masjid yang dibangun Nabi sebelum memasuki kota Madinah saat berhijrah

Dari masjid Quba berlanjut ke pasar dan kebun kurma masih dikawasan Madinah, disini dijual aneka kurma, aneka coklat, kacang Arab, almond dan minyak zaitun. dari  pasar dan kebun kurma tour berlanjut ke Gunung dan Makbaroh Syuhada Uhud, Gunung Uhud yang memiliki panjang sekitar 6 Km ini berjarak sekitar 4 Km sebelah utara dari Kota Madinah, memiliki sejarah besar dalam perkembangan Islam, dimana di Uhud inilah pernah terjadi peperangan antara pasukan Islam yang dipimpin Nabi versus pasukan kafir qurays dari Makah. Disebelah timur dari makbaroh Suhadak Uhud ini terdapat bukit yang bernama Rumat, yang berarti bukit pemanah.
Aku berusaha menaiki bukit Rumat atau bukit pemanah ini untuk merasakan sensasi dimana dahulu sewaktu perang Uhud, di bukit ini ditempatkan 50 pemanah pasukan Islam oleh Nabi yang bertujuan menghambat maju dari pasukan berkuda pasukan kafir yang dipimpin oleh Kholid bin Walid, pasukan pemanah dipesani Nabi agar tidak turun dalam kondisi apapun, menang atau kalah. Saat itu pasukan kafir sudah kocar-kacir kalah dan meninggalkan harta yang dibawanya, kondisi ini dianggap perang sudah berakhir. Sehingga pasukan pemanah yang ditempatkan di bukit Rumat ini justru  turun dan mengambil rampasan perang, padahal saat itu peperangan belum selesai dan pesan Nabi kepada pemanah agar tidak turun dari bukit tak dihiraukan.
Mendaki Bukit Rumat di Uhud

Situasi ini dimanfaatkan oleh pasukan berkuda Kholid bin Walid untuk memutari bukit Rumat dan memukul balik pasukan Islam dari belakang, situasi semakin kacau, Hamzah paman Nabi yang sekaligus sebagai salah satu komandan perang Uhud ini gugur tertombak Wahsi, bahkan Nabi sempat terjengkang  jatuh dikeroyok pasukan kafir Quraiys, dan wajah Nabi terpukul oleh kapak yang menyebabkan  salah satu gigi Nabi tanggal. Disela-sela hiruk pikuk peperangan ini ada kabar kalau Nabi gugur, semangat pasukan Islam saat itu langsung turun sehingga menyebabkan peperangan Uhud ini dimenangkan oleh pihak kafir Qurays.
Dari Uhud tour berlanjut di masjid Qiblatain, masjid Khomsah di wilayah Khondaq yang dahulu dipakai medan pertempuran parit yang digagas oleh sahabat Nabi Salman Al Farisi.
Sekembali dari tour sekitar Madinah, pada sorenya sehabis sholat asyar, aku berziarah dipekuburan umum Jannatul Baqi disebelah timur Masjid Madinah. Disini  dimakam Istri-istri Nabi selain Siti Khotijah dan Maimunah yang dimakam di Makah, juga dimakam anak-anak Nabi, cucu-cucu Nabi, Ibu Susuan Nabi Khalimah As-Sya’diyah, kerabat, dan sepuluh ribu lebih sahabat Nabi. Di pekuburan Jannatul Baqi ini yang paling mencolok adalah kerumunan peziarah di sekitar makam Utsman bin Affan, kholifah ke 3 sekaligus menantu Nabi ini makamnya selalu dijaga oleh beberapa askar.
Makam Utsman bin Affan kholifah ke3 sekaligus menantu Nabi di Jannatul Baqi'
Masjid Ghomamah ( awan ) Nabi sholat ditempat itu untuk minta hujan
Masjid Abu Bakar
Masjid Ali bin Abi Thalib
Di Taman Syaqifah Bani Saidah, disini Abu Bakar Assiddiq diangkat menjadi Kholifah pertama
setelah Nabi meninggal


Hari  ke 4
Rabu, 14 November 2018  ( Madinah – Makah )

Hari ke empat aku di Madinah, sehabis sholat subuh dan berziarah di Makam Nabi untuk perpisahan, aku sempatkan juga untuk ikut memakamkan 7 jenazah yang pagi itu akan dimakam di pekuburan Jannatul Baqi. Jenazah yang di letakkan di bagian maksurah Masjid Madinah digotong ramai-ramai dibawa di pekuburan Jannatul Baqi untuk dimakamkan, dari sinilah aku tahu bahwa jenazah yang telah dimasukkan keliang lahat tidak langsung ditutup pakai papan kayu dan diurug pakai tanah seperti di Indonesia, melainkan jenazah di dempingi atau di apit oleh bata tanah yang tidak dibakar, barulah jenazah diurug pakai tanah, kelak setelah sekitar 4 tahunan lobang liang lahat ini digali lagi untuk pemakaman selanjutnya.
Madinah aku rindu padamu !


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, aku harus meninggalkan Madinah yang sangat aku rindukan. Rasa kangen dekat dengan Nabi harus berakhir pada pagi ini, setelah sarapan pagi sekitar jam 09 waktu Madinah, rombongan jamaah umrah dari PT. Japfa Comfeed Indonesia cekout hotel dan mengenakan pakaian ihrom untuk selanjutnya dibawa dengan 2 bus meninggalkan Madinah. Gerimis mengiringi saat Madinah aku tinggalkan, aku berusaha untuk berdiri dan tidak duduk di kursi bus, kupandangi Masjid Madinah dengan payung-payung yang merekah lebar sambil berlinangan air mata, semakin jauh bus berjalan semakin jauh Masjid Madinah dan makam Nabi aku tinggalkan, rasanya aku tak ingin berpisah dengan Nabi, rasanya ingin berlama-lama di Madinah.
Sampailah aku di Masjid Bir Ali di Dzulhulaifah, sebuah masjid megah yang dipakai batas dan ambil miqot untuk berihrom. Saat aku sampai di Bir Ali, gerimis yang mengiringiku sejak dari kota Madinah berangsur mereda, aku tunaikan sholat sunat miqot umrah dan berniat umrah, masjid yang penuh dengan tanaman kurma hijau merimbun  terlihat sangat anggun. Masjid miqot ini kenapa di beri nama BIR ALI ?, ya karena dahulu Ali bin Abi Tholib yang sekaligus menantu Nabi diserahi tugas untuk membuat sumur di komplek masjid itu untuk keperluan miqot umrah dan haji, sehingga masjid miqot di Dzulhulaifah itu di kenal dengan masjid Bir Ali yang mengandung arti “ sumur Ali “.
Ambil Miqot Umrah di Masjid Bir Ali Zulhulaifah, aku membawa bendera rombongan
Aku mencoba mencari dan bertanya keberadaan sumur Ali itu kepada petugas kebersihan masjid, namun jawabannya sumur itu sudah tidak ada lagi dan dipakai untuk pelebaran masjid Bir Ali .

Setelah meninggalkan masjid Bir Ali di Dzulhulaifah, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri jalan trans Madinah-Makah atau yang disebut dengan jalan Hijrah yang sangat lebar, mulus seperti jalan tol di Indonesia, konon jalan ini dibuat menapak tilasi perjalanan hijrah Nabi dari Makah ke Madinah. Dikanan kiri aku lihat gunung-gunung batu yang terjal berderet-deret, diselingi gurun pasir yang tandus sambil bertalbiah sepanjang jalan trans Madinah-Makah yang berjarak 489,9 Km. Disepanjang jalan itu aku terus melamun membayangkan susahnya Nabi berhijrah dari Makah ke Madinah yang saat itu mengendarai unta Al-Qoswah bersama Abu Bakar Assyiddiq, menembus padang gurun yang panas membakar disiang hari, menembus dinginnya malam menusuk kulit dan tulang, melewati jalan berbatu yang terjal, haus dan lapar sepanjang perjalanan, masih harus menghindari para pengejar dari para kafir Qurays yang sewaktu-waktu mengancam diri Nabi, tak terasa mengalir air mataku membayangkan perjuangan Nabi yang maha berat itu.
Delapan jam sudah jalan trans Madinah-Makah itu aku lalui dengan laju bus yang sangat kencang dan beristirahat sekali di rest area, sampailah dikejauhan menara Abraj Al Bait terlihat mencorong dengan jam raksasanya berwarna kehijauan membelah angkasa kota Makah, Abraj Al Bait merupakan gedung tertinggi nomor 3 didunia, ditengah-tengah menjulang menara Assaah/Jam dengan diapit 6 gedung jangkung yang terdiri dari menara Al Maqom, Shofa, Marwa, Hajar, Zam-zam, dan Al Qiblat.
Abraj Al Bait icon baru Makah tempat aku menginap di Makah
Kamarku di Movenpick Hajar Tower Abraj Al Bait
Bila gording kamarku aku buka, masjid Alharam Makah terlihat kecil dibawahku
Sajadahku di Makah

Tepat adzan isyak berkumandang di Masjidil Haram, bus yang aku tumpangi sampai di pelataran parkir Hotel Abraj Al Bait Makah. Hotel yang aku tempati adalah Movenpick hotel & residences. Setelah cekin hotel, aku menempati lantai 29 , dari lantai lobi hotel naik lif 12 lantai berganti lif ke lantai 17 di Tower Hajar komplek Abraj Al Bait,  dari kamar hotel bila gording aku sibak masjidil haram tampak kecil dibawah hotelku. Setelah makam malam dan sholat jamak qosor, sekitar jam sembilan malam waktu Makah prosesi ibadah inti yaitu Umrah aku mulai dengan persiapan di depan Masjidil Haram.
Aku di plot bagian depan dengan ustat Mukti dari Pamekasan Madura (petugas / pembimbing selama di Haromain ). Padahal ini adalah pengalaman pertamaku menjalani towaf, aku didepan bukan karena aku berpengalaman, melainkan karena posturku tinggi, sehingga syal merah yang aku pakai bisa dilihat rombongan jamaah lain yang berjumlah 69 orang dibelakangku.
Baitullah kami datang !

Hatiku berdebar keras, bercampuraduk, barisan telah ditata dengan jamaah wanita di tengah dan dipagari jamaah pria di pinggir. Saat pintu Masjidil Haram aku masuki, dadaku semakin keras berdebar, ingin segera melihat rumah Allah yang menjadi qiblat bagi umat Islam sedunia, kusuri lorong masuk masjidil haram, aku turuni tanga demi tangga, sampai akhirnya pelataran tawaf aku injak kaki, sampai disini pecah tangisku melihat Kakbah didepan mataku, kupandangi kakbah dengan perasaan takjub yang tiada henti, kalam tasbih terucap dengan iringan tangis, kulangkahkan kaki mendekat kakbah yang semakin dekat dari pandanganku, sampailah di sudut rukun hajar aswat aku memulai berihtilam mencium hajar aswat dari kejauhan, aku terus melangkah dipelataran kakbah dengan masih tangisan yang terisak, kupanjatkan doa sambil bertowaf memutari kakbah dengan ribuan jamaah umrah dari berbagai belahan dunia, dengan pakaian sama, dengan niat yang sama, dengan sama-sama memohon ridlo dari Allah.
Untuk putaran pertama barisan dibelakangku masih utuh, putaran kedua barisan dibelakangku tinggal separo, putaran ke tiga tinggal enam jamaah wanita yang masih membuntutiku, sampai akhirnya barisan yang telah tertata rapi diawalnya kocar-kacir dalam putaran lautan manusia yang sama-sama memutari rumah suci Allah. Setelah putaran akhir aku keluar dari jalur tawaf dan melanjutkan sholat sunnah dua rakaat dibelakang maqam Ibrohim, aku berusaha masuk di alhatim/hijir Ismail meski aku harus berjuang dan berebutan untuk bisa masuk di alhatim, alhamdulillah aku berhasil masuk dan sholat dua rakaat sampai dua kali, sampai disini aku terus menangis kupanjatkan do’a tiada henti di alhatim, aku mencoba mencium kiswah kakbah dengan berebutan  jamaah yang lain, kulekatkan bibirku yang penuh dosa dikiswah kakbah dengan tangisan yang semakin kencang.
Prosesi umrah terus aku lakukan, setelah tawaf dilanjutkan sa’i di mas’a beserta jamaah yang lain, aku memulai sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwa yang berjarak kurang lebih 400 meter kali 7 kali putaran dan berakhir di bukit marwa. Prosesi sa’i ini menapak tilasi peristiwa Hajar dan bayi Ismail yang kelaparan dan haus di gurun pinggir Kakbah, yang saat itu telah ditinggal Ibrohim untuk kembali ke Palestina, dimana perbekalan Hajar telah habis, bahkan air susu Hajar tidak lagi keluar untuk bisa disusu bayi Ismail, ihtiyar Hajar untuk mencari air dan makanan disekitar Kakbah menemui jalan buntu, Hajar terus berlari kesana kemari antara bukit Shafa dan Marwa untuk mendapatkan air, akan tetapi hanya fatamorgana saja yang di perolehnya, keputusasaan diantara derasnya keringat yang keluar dan panasnya gurun yang menyengat menambah pilu hati Hajar.
Diatas bukit Marwa pada prosesi Sa'i

Sampailah keajaiban datang saat kepakan sayab Jibril berbarengan dengan hentakan kaki mungil bayi Ismail, memancarlah air jernih secara ajaib, melihat keajaiban didepan mata, Hajar terkesiap kegirangan sambil berusaha mengumpulkan air dengan terucap “ zami-zami ! “ yang berarti “ kumpulah kumpulah !”, dari kata zami-zami inilah istilah zam-zam berasal. Alhamdulillah sekitar jam 11.30 malam waktu Makah prosesi umrah yang pertama selesai dan aku beserta jamaah yang lain tidur di hotel setelah bertahallul / bercukur.

Hari  ke 5
Kamis, 15 November 2018  ( Makah )

Hari kelima aku di haromain atau hari kedua di Makah, setelah solat subuh dan tawaf,  sekitar jam delapan pagi waktu makah aku menjalani tour kota Makah, namun rencana ini berubah mengingat Bapak Singgih asal Yogjakarta selaku pemilik Biro Travel Baitullah Kota Intan Wisata yang menyertakan rombongan umrah PT. Japfa Comfeed Indonesia ini ingin mencoba mengambil lokasi wisata yang baru, maka diputuskanlah kota Thaif sebagai lokasi  tour.
Thaif adalah kota berjarak kurang lebih 64 Km sebelah timur dari kota Makah, Thaif adalah sebuah kota diatas ketinggian pegunungan, berhawa sejuk sekitar 12 derajat celcius seperti kota malang kalau di Indonesia, tanahnya subur, dikanan kiri banyak perkebunan sayur mayur, buah-buahan tumbuh dengan suburnya, kurma, jeruk, buah kaktus, berry, anggur, delima, tien dan lainnya banyak ditemukan disini. Tidak hanya sayur dan buah-buahan, Thaif dikenal sebagai penghasil mawar terbaik di Arab Saudi yang memasok mawar untuk kebutuhan bunga potong dan disuling untuk pembuatan kosmetik dan parfum.
Digerbang kota Thaif disamping masjid dan makam Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi yang kelak melahirkan
Dinasti kekhalifahan Abbasiyah

Saat tiba di kota Thaif kabut tebal dan gerimis menyambutku, kelokan jalan yang berliku-liku, serta hembusan angin yang dingin menerpa perjalanan bus yang aku tumpangi, di kanan kiri jalan tumbuh dan berdiri berbagai hotel, villa dan penginapan, tempat–tempat hiburan dapat dijumpai sepanjang jalan di Thaif, istana  kerajaan juga ada. Pendek kata Thoif adalah kota hiburan dan peristirahatan bagi orang berduit di Arab Saudi, malam sabtu dan ahad adalah hari libur kerja dan menjadi puncak keramaian di Thaif.
Obyek pertama yang aku kunjungi adalah Masjid dan Makam Abdullah Ibnu Abbas, Abdullah Ibnu Abbas adalah anak dari paman Nabi Abbas bin Abdul Mutholib, jadi masih sepupu Nabi. Abdullah Ibnu Abbas dikenal sebagai ahli hadits dan perawi Hadits, dari merekalah nantinya melahirkan raja-raja penguasa dari kekhalifahan Bani Abbas. Abdullah Ibnu Abbas meninggal  dalam rangka misi dakwah ke Thaif dan dimakam di kompleks pemakaman umum di Thaif.
Thaif pernah mencatat dan meninggalkan kenangan memilukan perjalanan dakwah Nabi pada tahun 10 kenabian. Saat itu istri Nabi tercinta Siti Khotijah meninggal dalam pengasingan kafir qurays, serta tak lama paman Nabi Abu Thalib yang sejak Nabi kecil selalu membela Nabi juga turut meninggal, dengan meninggalnya istri dan paman Nabi, tekanan dan ancaman kafir Qurays kepada Nabi semakin gencar dilakukan. Kesedihan yang amat sangat dirasakan Nabi ini dikenal dalam sejarah Islam dengan sebutan Amul Husni atau tahun kesedihan.
Suatu ketika Nabi bersama anak angkatnya Zaid bin Harisah diam-diam melakukan misi rahasia ke Thaif untuk meminta perlindungan dari salah satu suku dan berdakwah ke Thaif, akan tetapi misi rahasia ini rupanya bocor ke telingan Abu Jahal cs, sehingga Abu Jahal cs mengirim utusan ke Thaif mendahului Nabi, mereka meminta agar menolak kedatangan dan ajakan Nabi.  Sangat dimaklumi saat itu Nabi beserta Zaid bin Harisah mengadakan perjalanan ke Thaif dengan berjalan kaki, sehingga Makah dan Thaif ditempuh lima hari jalan kaki, terbukti memang kedatangan Nabi ke Thaif bukan sambutan ramah yang diterima, melainkan  penolakan dan cercaan, bahkan yang lebih sadis adalah saat Nabi dan Zaid bin Harisah harus menerima lemparan dan hujan batu ditubuhnya, Nabi dan Zaid tak ada jalan lain melainkan harus lari terbirit-birit menghindari lemparan batu penduduk Thaif.
Sampai akhirnya Nabi dan Zaid beristirahat disalah satu kebun anggur milik Rabiah, disini Nabi memanjatkan doa nelangsa kepada Allah tentang beratnya misi dakwah yang dialami Nabi, akhirnya doa Nabi terjawab dengan hadirnya Jibril di hadapan Nabi, Jibril menawarkan bantuan untuk memerintahkan malaikat penjaga dua gunung untuk di timpakan kepada penduduk Thaif, namun Nabi justru melarang dengan alasan  salah satu dari keturunan penduduk Thaif nantinya akan ada yang berislam.
Nabi kemudian merebahkan tubuhnya yang masih sakit berdarah-darah dengan tiduran diatas siku tangan, tiba-tiba batu yang di jadikan landasan siku Nabi itu ambles. Tempat amblesnya batu ini sekarang dibangun masjid berukuran sekitar 4 x 4 meter, masjid itu diberi nama masjid Kou’, yang artinya siku tangan. Masjid Kou’ hanya berupa tembok dari batu yang ditata dengan adukan semen, saat aku tiba disana masjid itu sengaja dibiarkan oleh pemerintah Arab Saudi dengan kondisinya yang tak terawat dan atapnya sudah banyak yang ambrol , berdiri dipinggir jalan raya dan berada ditepi gunung batu yang terjal. Masjid ini memang berada di pinggir areal kebun anggur.
Gerak-gerik Nabi dan Zaid rupanya diperhatikan dua anak Rabiah yang beragama nasrani, mereka kasihan melihat kondisi Nabi, maka kedua anak Rabiah ini mengutus pembantunya yang bernama Addas untuk memberi setandan buah anggur dan diberikan oleh Nabi. Saat Nabi memakan dan mengucap “ Bismillah “ inilah yang menyebabkan Addas terperanjat, kata Bismillah ini pernah Addas dengar dari cerita pendeta yang pernah menceritakan kalau akan ada Nabi penutup zaman. Dari perkenalan Addas dengan  Nabi  yang membuat Addas akhirnya masuk Islam, Ditengah kebun anggur  ini sekarang berdiri masjid yang cukup terawat dengan baik, bernama Masjid Addas yang mengabadikan nama Addas sebagai penolong Nabi .
Makan nasi kebuli dujjaj di resto Thaif


Di Thaif ini rombongan mampir di resto nasi mandi  lauk ayam bakar dan kepala kambing utuh dengan aroma khas timur tengah. Belanja buah-buahan di kawasan center point atau tempat tertinggi di Thaif sambil sesekali mencicipi buah kaktus dan jus buah gratis, dicenter point ini pula tercatat sebagai wilayah terdingin di Arab Saudi, sehingga seluruh rombongan jamaah umrah ini menggigil kedinginan. 
Nasi Mandi made in Thaif

Juga mampir di salah satu perusahaan penyulingan mawar di Thaif, hasil penyulingan mawar ini selanjutnya dikirim ke Makah dan Madinah untuk keperluan pembuatan parfum dan  prosesi pengharuman masjid Haromain

Mampir ke perusahaan penyulingan mawar di Thaif

Beli buah dipasar buah Al hada Centerpoint Thaif
View diketinggian kota Thaif yang dinginnya minta ampun !
Dari pabrik penyulingan mawar di Thaif inilah, kiswah Kakbah dan masjid haromain harum semerbak


Hari  ke 6
Jum’at, 16 November 2018  ( Makah )

Hari ke enam aku di Haromain atau hari ke tiga di Makah, tidak ada jadwal tour ke luar Makah. Maka aku sempatkan untuk persiapan sholat jum’at seawal mungkin.  Sholat jum’at ini merupakan teristimewa sepanjang hidupku, ya... sholat jum’at di Masjidil Haram. Aku tengok jam raksasa dipuncak Abraj Al-Bait tempat aku menginap, Waktu saat  itu baru jam 08.20 waktu Makah, aku gunakan untuk berziarah di tempat-tempat bersejarah di sekitar Masjidil Haram.
Taman di sekitar Markas urusan Air Zam zam di Kuday Makah

Obyek yang aku kunjungi pertama adalah perkampungan  Al Ajyad, kampung itu dahulu merupakan sebuah gunung batu yang dipakai menggembala kambing Nabi, sekarang kondisinya berubah menjadi kota metropolis dengan gedung-gedung jangkung perhotelan, bahkan gunung batu yang dipakai untuk menggembala kambing Nabi inipun sekarang sudah dikepras habis dan diatasnya dibangun Abraj Al-Bait yang merupakan bangunan tertinggi di Makah.
Obyek selanjutnya adalah rumah kelahiran Nabi ( Maulidun Nabi ), kebetulan saat aku umrah ini pas awal bulan Rabiul awal, itung-itung muludan di Makah. Rumah kelahiran Nabi ini sebenarnya dahulunya adalah rumah paman Nabi yaitu Abi Thalib, di rumah ini 50 hari setelah penyerbuan Abrahah dengan pasukan gajahnya,  Sayyidah Aminah senin tanggal 12 Rabiul Awal / 22 April 571 M melahirkan sendirian bayi Muhammad tanpa ada pendampingnya, konon menurut jumhur ulama, bayi Muhammad lahir dibidani bidadari dari syurga, dan terlahir bukan lewat farji Aminah, melainkan dari pembedahan perut Aminah oleh bidadari, meski demikian Aminah menuturkan saat melahirkan bayi Muhammad tidak merasa sakit seperti sakitnya melahirkan pada umumnya. Muhammad terlahir dalam kondisi bersujud, bercelak, sudah berkhitan, tubuhnya bercahaya, berbau harum, dan rambutnya rapi hitam legam.
Perpustakaan Makah Al Mukarromah yang dulu merupakan rumah Abu Thalib
tempat Sayyidah Aminah melahirkan Nabi Penutup Zaman

Rumah Abi Thalib yang dipakai Sayyidah Aminah melahirkan bayi Muhammad sekarang telah berubah menjadi bangunan Perpustakaan Makah Al-Mukarromah, terletak sebelah timur laut dari mas’a atau Masjidil Haram, menghadap ke arah selatan. Saat aku tiba disana perpustakaan sedang tutup / libur, hari jumat merupakan hari libur di Arab Saudi.
Dari rumah kelahiran Nabi, berjarak sekitar 200 meter kearah barat terdapat gedung toilet terbesar di komplek Masjidil Haram, dimana toilet ini berada dahulunya merupakan rumah dari pada Siti Khotijah yang membangun rumah tangga dengan Nabi, disini pula Fatimah Azzahra Al-Kubro lahir, saat aku tiba disini perasaan sedih dan nelangsa langsung menyeruak di hati, bagaimana tidak !, rumah bersejarah Nabi sekarang harus berubah menjadi tempat kencing dan tempat wudlu. Disampaing toilet ini terdapat kantor pusat perusahaan kontraktor Bin Laden group.
Saat aku keasyikan mengunjungi  rumah Nabi, waktu sudah menunjukkan pukul 09 waktu Makah, maka aku putuskan untuk segera memasuki Masjidil Haram untuk mengikuti sholat jum’at seawal mungkin, namun sesampai di dalam Masjdidl Haram lautan manusia telah memenuhi dan menyemut di pelataran tawaf, penuh sesak, aku akhirnya harus rela menempati Masjidil Haram di lantai 3 yang masih agak kosong. Aku berusaha mencari view dan spot pengambilan foto yang berhadapan langsung dengan pintu kakbah, aku ingin melihat secara langsung pelaksanaan sholat jum’at di Masjidil Haram.
Kakbah aku foto dari lantai 3 menjelang shalat jum'at

Aku perhatikan terus waktu demi waktu, aku ingin melihat dimana letak mimbar dan posisi imam waktu sholat jum’at. Sampai akhirnya aku menyaksikan mimbar yang didorong para askar dari masjid ke pelataran kakbah, juga payung lebar berwarna putih 3 buah, lebih tepatnya dimasukkan didalam Al-Hatim atau Hijir Ismail, oh ternyata khotib dan imam dalam pelaksanaan sholat jum’at di Masjidil Haram ada di dalam Al-Hatim.


Hari  ke 7
Sabtu, 17 November 2018 ( Makah )

Hari ke tujuh aku di Haromain atau hari ke empat di Makah, sesuai jadwal hari ini digunakan untuk wisata kota Makah, terutama di lokasi prosesi Haji ( Arofah, Muzdalifah dan Mina ). Obyek yang aku kunjungi pertama adalah Kantor Departemen Geologi dan divisi air zam-zam Kerajaan Arab Saudi di Kuday, sebuah wilayah disebelah tenggara sekitar 3 Km dari kota Makah. Disini semua urusan air zam-zam dikendalikan, mulai memompa zam-zam, mendistribusikan, mengemas dalam botol, menyimpan dalam gudang untuk persiapan oleh-oleh umrah dan haji, laboratorium, dan pangkalan truk tangki yang membawa zam-zam ke Masjid Nabi di Madinah. Gedung dan pabriknya modern, bahkan penjualan air zam-zam dalam kemasan sudah dilayani secara otomatis.
Sumur zam-zam yang berada sekitar 21 meter disebelah tenggara kakbah sekarang telah ditutup dan tidak bisa di akses oleh jamaah, bahkan tanda lingkaran di pelataran tawafpun sekarang telah dihapus.
Obyek kedua adalah Arofah, Arofah adalah sebuah padang luas yang digunakan pada saat puncak Haji atau wuquf. Terdapat bukit Rohmah yang ditengah-tengahnya berdiri memorial bertemunya Adam dan Hawa yang terpisah sekitar 300 tahun lamanya. Bukit cinta itu sangat ramai dikunjungi para peziarah yang menapak tilasi perjuangan hidup di bumi setelah terlempar dari syurga akibat memakan buah khuldi di surga.
Bukit Rohmat, bukit lambang keabadian cinta Adam dan Hawa setelah terlempar dari syurga
akibat dosa memakan buah huldi

Di bukit Rohmah sekarang telah dibangun tangga untuk mempermudah jamaah yang mendaki di puncaknya, dari puncak ini aku menyaksikan padang arofah yang semakin menghijau, dan disebelah barat yang berbatasan dengan muzdalifah berdiri sangat anggun masjid Namiroh dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi, disini pula aku panjatkan doa untuk keselamatan rumah tanggaku.
Arofah meninggalkan jejak kenangan indah dari Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, Soekarno lah yang mengusulkan penghijauan di Arofah. Hingga saat ini penghijauan itu telah tumbuh merimbun. Untuk mengenang jasa Soekarno itu , pohon penghijauan di Arofah dikenal dengan nama Sajaroh Soekarno atau Pohon Soekarno.  Setelah aku dekati pohon Soekarno ternyata berjenis Nimba, Akasia dan Waru.
Kupandangi Arafah yang semakin hijau dengan tanaman/sajaroh Soekarno dari atas bukit Rahmat
Tugu memorial di bukit Ismail saat disembelihnya Ismail dalam peristiwa Qurban
Perkambungan haji Indonesia di Mina
Jembatan Jamarat berdiri tegak 5 lantai di Mina
Di perbatasan antara Mina dan Muzdalifah aku meminta pak sopir untuk melambatkan laju bus yang aku tumpangi, aku ingin melihat sebuah lembah yang diberi nama Lembah Muhassir, rupanya lembah ini sekarang menjadi Mina baru/Mina jadid ( sebuah kawasan perluasan Mina ) , di lembah ini dahulu  pernah terjadi azab besar Allah kepada Abrahah dan bala tentaranya.
Alkisah ... peristiwa ini bermula dari rasa iri dan terpesonanya Abrahah raja dari Yaman terhadap kota Makah yang terdapat Kakbah di tengahnya, Makah dan Kakbah menjadi jujukan para pelancong dan kafilah dagang dari berbagai belahan dunia, selain berdagang, pendatang biasanya bertawaf mengelilingi Kakbah, sehingga Makah menjadi kota penting dan maju. Inilah yang menyebabkan Abrahah membangun kuil tandingan si San’a Yaman, bahkan bangunan kuilnya begitu mewah melebihi bangunan Kakbah di Makah, namun kuil bangunan Abrahah ini sepi dari peziarah, bahkan pada suatu malam kuil Abrahah dipakai buang hajat dan berzina oleh orang Makah, tragisnya peristiwa ini disaksikan orang Yaman yang kemudian lapor kepada Abrahah.
Murkalah Abrahah mendengar penghinaan ini, sehingga Abrahah memutuskan akan menghancurkan Kakbah dan Makah. Abrahah kemudian menyiapkan ribuan pasukan tempur dengan menaiki gajah-gajah terlatih berjalan dari Yaman ke Makah. Sampailah pasukan Abrahah ini memasuki wilayah Makah, di tengah jalan pasukan Abrahah ini merampas seratus unta milik Abdul Muntholib ( kakek Nabi ) yang digembalakan oleh pembantunya. Perampasan ini akhirnya dilaporkan pembantu ke Abdul Muntholib yang sedang berdiam didalam Kakbah.
Abdul Muntholib kemudian menemui Abrahah di perkemahannya, terjadilah dialog antara Abdul Muntholib dan Abrahah, Abdul Muntholib berusaha meminta kembali seratus untanya, namun justru Abrahah malah berkata “ mengapa engkau malah mengurusi untamu ? sementara aku akan menghancurkan Kakbah dan Makahmu ! “, Abdul Muntholib kemudian menjawab  “ unta adalah milikku, sementara Kakbah adalah milik Allah, biarlah Allah yang mengurusinya ! “ . dari dialog ini Abdul Muntholib berhasil membawa kembali seratus untanya, dan sesampai di Makah Abdul Muntholib menyuruh seluruh penduduk Makah untuk segera mengungsi ke gunung sekitar Makah menghindar dari amukan Abrahah.
Singkat cerita sampailah pasukan Abrahah di lembah Muhassir, tiba-tiba semua gajah yang dibawa Abrahah mogok berjalan, kalau di hadapkan ke utara, ke timur dan ke selatan gajah-gajah mau berjalan, akan tetapi bila dihadapkan ke barat kearah Makah gajah-gajah kembali mogok berjalan, belum hilang rasa herannya terhadap gajah-gajah yang mogok berjalan, tiba-tiba di langit terjadi mendung yang pekat menghitam, mendung ini bukan mendung hujan, melainkan mendung dari ribuan burung Ababil yang masing-masing membawa tiga buah batu kerikil yang membara dari neraka, batu-batu yang dibawa Ababil juga membawa virus mematikan, ababil membawa batu dengan paruh dan kedua kakinya, batu-batu itu kemudian dijatuhkan ke pasukan Abrahah, pasukan bergajah yang disebut sebut sebagai pasukan kuat dan terpilih hancur lebur porak poranda seperti dikisahkan dalam Quran surat Al-Fil. Abrahah sendiri dan beberapa pendampingnya lolos dari amukan ababil, berhasil pulang ke San’a Yaman, namun diperjalanan Abrahah sudah terjangkiti virus mematikan dari batu yang dibawa ababil, sehingga bagian tubuh Abrahah satu persatu putus akibat penyakit lepra/kusta  yang dideritanya, sampailah Abrahah tiba di Yaman dalam kondisi perutnya menggelembung dan pecah berhamburan di depan rakyatnya. Sungguh pantas akibat kesombongannya yang ingin menghancurkan rumah suci Kakbah.
Sehabis menghabisi pasukan Abrahah di lembah Muhassir, rombongan Ababil kemudian berarak mengelilingi kakbah 7 kali bertawaf dan menghilang diufuk. Lima puluh hari dari peristiwa ini, pada hari Senin 12 Rabiul Awal 571 M, lahirlah Nabi manusia suci  di kota Makah, maka tahun kelahiran Nabi dikenal dengan sebutan tahun gajah yang dinisbatkan pada peristiwa hancurnya pasukan bergajah Abrahah.
 
Gunung Nur tempat Gua Hira berada, di sanalah wahyu pertama turun
Dari kawasan armina rombongan tour melewati Gunung Nur yang terdapat gua hira, untuk bisa sampai di gua hira dibutuhkan dua jam berjalan mendaki dan dua jam turun gunung, maka diputuskan rombongan melanjutkan perjalanan, dan sampailah di Ji’ronah yang terdapat masjid untuk mengambil miqot dan niat umrah. Dari ji’ronah inilah umrah kedua aku niatkan dan aku hadiahkan untuk almarhum ayahanda tercinta.
Ambil miqot di Ji'ronah untuk melaksanakan umrah ke 2


Hari  ke 8
Ahad, 18 November 2018  ( Makah )

Hari kedelapan aku di Haromain atau hari terakhirku di Makah, sesuai jadwal sehabis sholat subuh dilanjutkan tawaf wada atau tawaf perpisahan. Ini adalah momen yang paling tersedih selama aku diharomain, bagaimana tidak sebentar lagi akan meninggalkan haromain, meninggalkan kakbah pusat konsentrasi umat Islam sedunia. Kupandangi kakbah sambil tawaf, sehabis tawaf kakbah masih aku pandangi seakan tak berkedip, hampir satu jam lamanya sambil bertangisan, berangkulan dengan sesama jamaah satu group, memanjatkan doa, memanggil semua keluarga dan handai tolan ditanah air untuk segera menerima fadzol agar dipanggil Allah ke Haromain.
Sedih bercampur haru biru,  pelan tapi pasti aku harus segera meninggalkan kakbah dan haromain, kupandangi kakbah sambil berjalan menepi dari pelataran tawaf, kakbah semakin jauh aku tinggalkan, kunaiki tangga masjid satu demi satu, kutatap lagi kakbah seakan tak mau berpisah, kutinggalkan pelataran tawaf sambil terisak, aku terus melangkah dan berbelok, sampai disini tangisku semakin kencang saat kakbah tak lagi aku lihat, kakbah hilang dari pandangan mataku. Aku susuri jalan menuju hotel dengan terus terisak.
Tawaf Wada sambil bertangisan

Tepat jam delapan pagi waktu Makah, setelah sarapan pagi, Makah aku tinggalkan dengan sejuta kisah yang terukir indah dalam hidupku, kupandangi menara-menara masjidil haram yang semakin jauh aku tinggalkan, bus yang membawaku ke Jeddah semakin kencang lajunya.
Satu jam kemudian aku memasuki kota Jeddah, kota paling modern di negara Saudi Arabia, kota yang digadang-gadang sebagai pusat ekonomi Saudi, gedung-gedung jangkung dengan arsitek futuristik menghiasi dikanan kiri jalan jalan di Jeddah, kota yang berada di bibir pantai Laut Merah ini menawarkan pemandangan yang lain, tertata cukup apik dengan taman-taman indah, patung-patung dan monumen berjajar menghiasi kota pantai ini. Di kota ini terdapat makam ibu dari manusia di dunia yaitu Siti Hawa, meski saat ini kondisi makam sudah ditutup bagi peziarah oleh kerajaan Saudi, namun peziarah dari berbagai dunia tetap datang disini sekedar mendoakan Siti Hawa dibalik pagar yang tinggi. Nama Jeddah diambil dari kata Jaddatun yang berarti nenek, karena Hawa merupakan nenek dari semua manusia didunia.
dibalik tembok kuning itulah Hawa dimakamkan

Rombongan tour terus melanjutkan perjalanan dan mampir di masjid Jaffali atau yang lebih populer disebut Masjid Qisos, karena di masjid ini hukuman mati pancung / qisos dilaksanakan, terletak dipinggir danau air asin yang menghubungkan dengan laut merah, didepan masjid qisos terdapat tenda putih permanen persegi empat dengan lebar 5x5 m, dibawah tenda ini hukuman pancung biasanya dilaksanakan setelah sholat jum’at.
Menurut Ustad Anta Maulana ( petugas yang mendampingiku selama di Haromain ) mengisahkan, terpidana mati biasanya dipakaikan baju putih dan kepalanya dikerodongi dengan kerodong kain putih juga, kedua tangannya terikat di punggung, posisi terpidana didudukkan dengan posisi setengah berjongkok, setelah itu terpidana mati didoakan bersama-sama oleh para jamaah sholat jumat yang turut menyaksikan jalannya hukuman pancung, kebanyakan dari penduduk Jeddah itu sendiri.
Masjid Jafali atau lebih populer masjid Qisos di Jeddah

Komandan eksekusi kemudian memberi aba-aba, algojo sambil menghunus pedang memasuki tenda dan memutari terpidana mati, memutari ini dimaksudkan untuk menghilangkan perasaan was-was terpidana mati, sampai akhirnya sekali pedang terayun oleh algojo putuslah leher terpidana mati, pekikan Allahu Akbar membahana dari penonton, setelah itu ditepuki tangan beramai-ramai. Mengapa ditepuki tangan ?, menurut penonton yang kebanyakan dari penduduk Jeddah beranggapan bahwa negaranya telah melaksanakan hukum dengan adil. Setelah itu terpidana mati dimasukkan peti mati dan dibawa ambulans kerumah sakit untuk keperluan visum, menjahit leher, memandikan, dan mengubur.
Dari Masjid Qisos berlanjut di pusat perbelanjaan dan oleh-oleh di Balad Cornice Jeddah, disini terdapat toko-toko yang menjual berbagai oleh-oleh haji dan umrah, boleh memakai mata uang  di berbagai negara dalam bertransaksi, disini pula jamaah umrah rombonganku menghabiskan real dan rupiahnya memborong oleh-oleh. Di Balad Cornice ini rombongan makan siang di restourant “ Wong Solo “, resto yang konon milik orang jawa ini menyediakan aneka menu Indonesia, semacam kulub-kuluban, tempe tahu goreng, sambal trasi, sop bening brokoli, ayam panggang, dan aneka lalapan mulai petai, jengkol dll. Di resto Wong Solo ini terasa sekali ke jawaannya, bahasa yang digunakan para pramu sajinya dengan bahasa jawa, dan selama di Haromain ,baru kali ini makan dengan sangat lahap sekali.
Dari Balad Cornice rombongan melanjutkan perjalanan menuju bandara Jeddah, sesampainya di bandara Jeddah kami berpisah dengan Ustat Anta Maulana  dan Mas Khafid petugas yang membantu rombongan selama di Haromain, keduanya adalah orang Indonesia yang bermukin di Arab Saudi, kami di kasih lagi oleh-oleh ayam goreng terbaik di Saudi dan terlaris di dunia Al-Baik dari BKIW Tour & Travel.
Albaik salah satu ayam goreng terlaris didunia, setiap 1 pak yang dibeli, 2 realnya disodaqohkan untuk
Masjid Haromain

Bandara Jeddah yang dipakai pintu masuk dan keluar jamaah Haji dan Umrah dari berbagai belahan dunia ini kondisinya udah butut dan kurang sentuhan seni, infrastrukturnya sudah ketinggalan jaman, sangat jauh tertinggal bila dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, air zam-zam yang aku bawa  4 botol dari Madinah begitu gampangnya lolos dari scan metal, bahkan pemeriksaan bagasi dan tas sangat longgar sekali.
Antrean  pemeriksaan  keimigrasian di Bandara Jeddah

Setelah sholat jamak qosor, pemeriksaan paspor, menunggu di appron, rombongan akhirnya pada pukul 09 malam waktu jeddah, setelah tertunda selama satu setengah jam pesawat Garuda Indonesia no penerbangan GA981 take of dengan mulusnya terbang meninggalkan landasan pacu untuk kembali ke tanah air.

Menu sarapanku di Millennium Al Aqiq Madinah



Menu makanan selama di Madinah dan Makah

Hari  ke 9
Senin, 19 November 2018  ( Jakarta – Semarang – Pati )

Setelah menempuh penerbangan sepuluh jam lebih, Pesawat Garuda Indonesia yang aku tumpangi  pada pukul  sembilan pagi mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, yang selanjutnya pada pukul 12,55 WIB pesawat Garuda Indonesia dengan no penerbangan GA238 membawaku terbang ke Semarang setelah acara sambut pisah rombongan yang berasal dari group Semarang di bandara Soeta.
Alhamdulillah setelah terbang kurang lebih 40 menit pesawat yang membawaku dari Jakarta mendarat dengan selamat di Bandara Ah. Yani Semarang, aku selamat sampai rumah setelah isyak senin 19 November 2018 yang bertepatan malam Maulidun Nabi 12 Rabiul Awal 1440 H.