Sabtu, 20 April 2013

Tambak tradisional, aneka hasil dan pekerjaannya



Tambak tradisional, aneka hasil dan pekerjaannya
            Seiring dengan perkembangan jaman dan kebutuhan manusia dalam mencari rizqi, sering pada saat ini para petani tambak menghilangkan tradisi dan tata cara dalam mengolah dan membudidayakan tambak, dalam hal ini adalah tradisi dan tata cara lama yang mengandung nilai-nilai filosofis dalam menjaga dan membudidayakan alam, dengan alasan praktis dan waktu, pelan tetapi pasti budaya agung menghargai alam sebagai tempat hidup kita mulai tergerus oleh perkembangan jaman.
            Dalam postingan kali ini penulis ingin bernostalgia mengangkat tema tradisi pekerjaan di tambak yang kini telah banyak ditinggalkan para petani tambak, khususnya petani tambak di desa penulis Bulumanis lor Margoyoso Pati Jawa Tengah. Penulis sendiri adalah salah satu generasi jadul yang pernah mengenyam tradisi dan tata cara “tempo doeloe” dalam menjalankan pekerjaan sebagai petani tambak yang kini sudah jarang dan mungkin sudah tidak ada lagi di lakukan di banyak tempat.

Bagian-bagian tambak tradisional :
1.      Sungon / sungai :
Sungai atau dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah sungon, adalah sungai yang menghubungkan antara deretan tambak dengan laut sebagai sumber air utama untuk mengisi tambak.
2.      Playangan :
Playangan adalah sebuah sungai kecil yang menghubungkan antara tambak dengan sungai/sungon. Playangan ini biasanya diujungnya terdapat saringan yang menempel pada ngaban induk.
3.      Saringan / loho :
Saringan atau loho ini adalah saringan air yang terbuat dari bambu yang di jalin dengan tali. Saringan ini fungsinya adalah menyaring air dari laut yang dimasukkan kedalam tambak (nyoroti), air yang dimasukkan tambak ini biasanya membawa sampah (sarah) yang kalau tidak disaring nantinya tambak akan kotor penuh dengan sampah ini.
 Ngaban (foto by Mustain wahid)
4.      Ngaban :
Ngaban atau dalam bahasa Indonesia terkenal dengan istilah pintu air. Ngaban ini ada dua macam, ngaban induk yang berada diujung playangan dan ngaban kecil yang berada di dalam tambak yang menghubungkan caren dan corot dengan carukan. Ngaban ini terdapat tutup air yang terbuat dari papan kayu yang dibingkai dengan pegangan tangan untuk membuka dan menutupnya.
 Carukan (foto by Mustain Wahid)
5.      Carukan :
Carukan adalah sebuah kolam kecil tepat berada di depan ngaban induk, carukan ini berbentuk tapal kuda dengan diameter 4 meter. Carukan ini menjadi muara bagi caren dan corot, biasanya caren ini juga memiliki tiga ngaban kecil. Kecuali sebagai muara caren dan corot carukan biasanya difungsikan untuk menangkap ikan dengan alat yang bernama “anco”.
 Proses pembuatan bubu ( repro atap laut )
6.      Wuwu / Bubu :
Wuwu atau bubu adalah sebuah alat saringan air yang berbentuk seperti rudal, berdiameter 50 cm. wuwu ini kecuali sebagai saringan air tahap dua, tetapi ia lebih berfungsi sebagai pemecah air yang masuk di carukan, sehingga air yang masuk ke carukan tidak lagi menggelontor akan tetapi air  sudah berupa riak-riak kecil dengan suara gemericik, air asin yang baru serta mengalir gemericik ini akan menarik ikan-ikan di tambak untuk menuju carukan, didalam carukan ini ikan kemudian di jaring menggunakan anco dan seser. 
Wuwu / Bubu ( foto repro)

7.      Corot :
Corot adalah sebuah sungai yang berada di tengah-tengah tambak, corot ini berfungsi sebagai jalan air bila tambak sedang dikuras (dibedahi) atau sedang diisi air (Nyoroti), juga berfungsi sebagai tempat mengambil rebon/jembret dan tempat sementara para ikan kalau tambak sedang di bedahi.
Caren ( foto by Mustain Wahid )
8.      Caren :
Caren adalah sebuah sungai yang mengelilingi tambak, tempatnya dipinggir yang berdampingan dengan tanggul tambak. sedang fungsinya sama seperti fungsi corot.
 Blabakan ( repro antara )
9.      Blabakan :
Blabakan merupakan dasar tambak secara keseluruhan, blabakan ini biasanya berlumpur  dan tempat tumbuh aneka vegetasi tambak, seperti  lumut dan ganggang. Blabakan ini juga sebagai tempat ikan mencari makan. Maka tambak yang terbaik adalah tambak yang blabakannya subur dan ditumbuhi vegetasi tambak. Untuk memiliki blabakan yang subur biasanya blabakan diolah terlebih dahulu, baik dengan di cangkul atau di brujul dan berakhir dengan di taburi pupuk kandang,  blabakan ini juga perlu dikeringkan dengan bantuan sinar matahari sampai satu bulan penuh.
 Ipukan ( foto by Mustain Wahid)
10.  Ipukan :
Ipukan adalah bagian tambak yang dikhususkan untuk ngingu/ memelihara benih bandeng (nener/anak bandeng).ipukan ini di beri tanggul yang tidak bisa dimasuki aneka ikan yang lain (dalam bahasa petani tambak ikan selain bandeng dan udang windu ini terkenal dengan sebutan regetan). Ipukan ini sebisa mungkin dipilihkan air yang berkualitas baik dan tidak tercemar oleh polusi, mengingat fungsi utama ipukan ini adalah untuk wadah membesarkan nener bandeng.
11.  Srapatan :
Srapatan adalah sebuat tempat kecil di tanggul tambak yang dipakai petani, biasanya di pojok sebelah ujung tambak yang berfungsi untuk menjaring ikan dengan bantuan alat jaring yang bernama anco dan seser, nyrapat ini biasanya dilakukan pada waktu malam setelah matahari tenggelam dan diterangi lampu kecil yang bernama “ teng”.
12.  Tanggul :
Tanggul atau beteng adalah sebuah batas yang memisahkan antara  tambak satu dengan tambak yang lain, berupa tanah masif yang ditumbuhi aneka vegetasi perairan pantai yang berupa rumput tambak, gilang dan intip-intipan. Gilang dan intip-intipan ini biasanya dapat di sayur sebagai menu tambahan bagi wanita yang sedang hamil.
 Degan dan kopi sebagai klangenan (foto by Mustain Wahid)
13.  Tempat Sesaji :
Tempat sesaji ini biasanya terletak dipinggir carukan bersebelahan dengan ngaban induk. Sesaji ini biasanya berupa kembang bureh, dan makanan kesukaan tokoh pembuat tambak tersebut. Misalnya si anu adalah tokoh pemilik dan pembuat tambak (biasanya sudah almarhum puluhan tahun), sewaktu masih hidup kesukaannya rokok dan wedang kopi, maka dalam sesaji disertakan  rokok dan wedang kopi sebagai klangenan ( sukaan). Kecuali kembang bureh dan klangenan biasanya ditambah masakan bubur koleh, bubur koleh ini adalah sejenis bubur yang dibuat menggunakan bahan dasar tepung beras, santan, gula merah dan daun pandan sebagai pewangi alami. Bubur koleh ini dikandung maksud sebagai “tafaul
atau dalam istilah jawa kirata basa yang berarti koleh=mekoleh atau mendapat, mendapat  yang berarti  dalam proses bedahi menghasilkan banyak hasil yang melimpah. 
 Gubug Tambak Rumbia ( foto by Mustain Wahid )
14.  Gubug :
Gubug adalah sebuah rumah kecil dibangun diatas tanah tanggul tambak, fungsi gubug ini adalah sebagai tempat istirahat, tidur, bernaung dari sengatan matahari dan hujan, juga berfungsi menyimpan aneka peralatan tambak. Gubug ini ada yang dibangun menggunakan atap rumbia, genting, seng dan asbes. Dengan dinding terbuat dari gedeg dan plupoh dari bambu (bambu yang dibelah-belah).
Beberapa pekerjaan petani tambak tradisional :
1.      Grejek
Grejek adalah pekerjaan membuang air tambak sebagian, hanya sepertiga bagian air tambak dan biasanya pekerjaan ini dilakukan petani tambak bila tambak penuh dengan air hujan (musim penghujan). Untuk mengurangi limpasan air tambak ini, maka petani melakukan grejek . dalam grejek ini biasanya ikan di dalam tambak ikut keluar bersama air tambak, untuk menjaga agar ikan tidak ikut keluar, maka mulut keluaran air di beri saringan. Grejek ini tidak melalui ngaban, melainkan membedah tanggul untuk jalan air keluar. mengingat permukaan air di sungai masih sangat tinggi.

2.      Bedahi
Bedahi adalah membuka/mengganti air tambak dan mengambil hasil tambak, bedahi ini memiliki rentang waktu yang berbeda, bisa satu bulan sekali, dua bulan sekali tergantung kondisi air tambak dan hasil yang terlihat di dalam tambak. Dalam bedahi ini didahului dengan ritual memasang sesaji kembang bureh, klangenan dan bubur koleh sambil berdoa kepada Allah SWT. agar dalam prosesi bedahi tidak terjadi aral dan diberi hasil yang melimpah. Kemudian dilanjutkan mencabut wuwu/bubu yang masih terpasang pada mulut ngaban serta mengeduk lumpur di playangan agar air yang keluar dari tambak lancar, setelah pekerjaan ini selesai barulah tambak dibuka dengan terlebih dahulu membuka tutup ngaban dan  memasang alat saringan ikan yang bernama “entek”.

 Nyongklo ( repro Gresik )
3.      Nyongklo
Setelah air tambak terkuras dan air tinggal tersisa di caren dan corot, pekerjaan selanjutnya adalah nyongklo, nyongklo adalah pekerjaan mengambil rebon atau dalam istilah jawa terkenal dengan sebutan “jembret”. 



Rebon/Jembret
Rebon ini semacam zooplankton yang kalau diperhatikan mirip dengan anak udang  seukuran jarum,yang hilir mudik di permukaan air tambak. Alat nyongklo ini disebut “songklo” yang terdiri dari dua galah yang di tambati oleh entek/kain kasa lembut sebagai tempat terkumpulnya rebon tersebut. Kedua galah yang menyilang tersebut terkenal dengan istilah “jangon”. Songklo ini dijalankan dengan didorong dari belakang. Dari hasil nyongklo yang berupa jembret ini kemudian di cuci bersih dan digantang/digantung menggunakan kain kasa,kemudian jembret yang digantang ini akan meneteskan cairan yang disebut “kundul”. 

Kundul / Petis Terasi

Kundul ini kemudian ditampung dan direbus menjadi semacam petis terasi, petis terasi ini rasanya sangat lezat sekali, penulis sendiri sangat menyukai kundul ini, baik sebagai lauk pauk makan nasi atau dimakan dengan singkong rebus.

Menjemur Jembret ( repro antara )

4.      Mepe Jembret
Jembret yang telah tiris dari cairan kundul ini kemudian dijemur/dipepe diatas anyaman daun kelapa yang dibingkai dengan belahan bambu yang terkenal dengan istilah “widek”,

Widek

 widek ini bisa sampai puluhan dan di simpan di dalam gubuk.
Lesung / kentongan  dan terasi tambak (repro Purwokerto antik)



5.      Deplok Terasi
Setelah jembret agak kering kemudian proses selanjutnya adalah di tumbuk atau di deplok menggunakan alu dan lesung (kentongan), jembret yang telah separo jadi terasi ini dikenal dengan nama “bobo”. Bobo ini ke esokan harinya di jemur  dan di tumbuk lagi sehingga final menjadi terasi yang kita kenal sebagai penyedap bumbu masakan kita. Terasi tambak ini rasanya lebih enak jika dibandingkan dengan terasi dari  hasil laut, terasi hasil laut ini kurang laku dipasaran dikarenakan berbau arus. Terasi tambak biasanya berwarna hitam kemerah-merahan, sedang terasi laut biasanya berwarna hitam pucat.

 Jaring anco ( foto repro )
6.      Nganco
Nganco adalah menjaring ikan regetan(ikan yang bukan bandeng dan udang windu) di carukan, menggunakan jaring ikan jenis anco dan seser sebagai seroknya. Nganco ini akan terlihat hasilnya bila tambak  sudah terkuras dan airnya hanya di caren dan corot, kenapa demikian, karena ikan ini akan terkumpul di caren dan corot.

7.      Gogo
Gogo adalah mengambil ikan dan udang windu di air secara langsung tidak menggunakan  alat bantu jaring atau serok, petani menceburkan diri dalam tambak yang masih penuh airnya. Petani hanya mengandalkan kepekaan telapak tangan untuk menangkap langsung ikan dan udang windu, istilah jawanya adalah “gerayang-gerayang”. Tidak sembarang orang mampu melaksanakan pekerjaan ini, biasanya dibutuhkan orang-orang yang ahli dalam gogo ini. ikan-ikan dan udang yang telah tertangkap tangan ini kemudian dikumpulkan dalam seser yang ditancapkan berdiri pada bibir caren dan corot.
 Ngkrikit (foto repro)

8.      Ngrikit
Ngrikit adalah pekerjaan mendorong ikan dan udang yang telah terkepung dalam caren dan corot akibat dari terkurasnya air tambak, ngrikit ini biasanya menggunakan pendorong atau “sembong”dari tumpukan jerami yang direbahkan selebar caren dan corot. Ngrikit ini pekerjaan yang cukup menguras tenaga, mengingat ngrikit ini adalah mendorong sembong yang telah berlumpur, sehingga dalam mendorongnya cukup berat. Dalam ngrikit ini dibutuhkan 4-5 pekerja, yang sesekali sambil memunguti ikan dan udang yang terkepung didepan sembong.
 Jrupoh ( repro iwan-hamzah )

9.      Jrupoh
Jrupoh adalah memunguti ikan dan udang yang tertinggal di lahan tambak yang telah selesai diambil secara keseluruhan (dikosongkan) oleh pemiliknya, jrupoh ini dalam petani sawah terkenal dengan istilah “ngasak” dan jrupoh ini biasanya dilakukan orang lain yang bukan pemilik tambak dan sifatnya ihlas sebagai bentuk shodaqoh bagi sesama yang dluafa (orang miskin).
 Loho sebgai alat nggaruk ( foto by Mustain Wahid )


10.  Nggaruk
Nggaruk ini tujuan dan pelaksanaannya hampir sama dengan ngrikit, perbedaannya bila ngrikit menggunakan sembong sedangkan nggaruk menggunakan alat saringan air yang disebut “loho”.
 Njaring ( foto repro )

11.  Njaring
Njaring ini biasanya dilakukan petani tambak dalam mengambil ikan bandeng, dan umumnya njaring ini dilakukan di tambak yang kondisi airnya masih penuh, jaring ini biasanya yang tertangkap adalah ikan bandeng saja, sedangkan komoditi yang lainnya semisal udang windu tetap lolos dari perangkap jaring ini.
 Njaring Mopok ( repro mbahlati )

pekerjaan melibatkan banyak orang mengingat dalam menebar jaring dan menariknya dibutuhkan orang banyak, Jaring yang digunakan boleh jadi sepanjang sisi tambak.
 Nduduk Tambak ( repro andrisoft )

12.  Nduduk
Nduduk atau mengeduk lumpur ini biasanya dilakukan petani bila caren, corot dan sungon mengalami dangkal akibat timbunan lumpur, alat yang dipakai pekerjaan ini bernama “klentho atau kancur” semacam sekop lumpur yang terbuat dari kayu nangka utuh yang di tatah menyerupai sebuah perahu yang terpotong. Klentho atau Kancur ini diberi pegangan untuk tangan kanan dan tangan kiri, pekerjaan nduduk ini membutuhkan stamina yang cukup prima untuk melontar lumpur ke atas tanggul tambak. Pekerjaan nduduk ini bisa dilakukan sendiri maupun bersama-sama.

13.  Nyoroti
Nyoroti adalah memasukkan air laut kedalam tambak sehabis di bedahi, sebelum pekerjaan nyoroti ini dilakukan, biasanya petani memasang wuwu/bubu terlebih dahulu ke dalam mulut ngaban induk sebagai saringan dan memecah air yang masuk dalam carukan. Nyoroti ini biasanya di lakukan pada tanggal muda mengikuti hukum alam dalam grafitasi bulan dan bumi, pengaruh grafitasi bulan dan bumi ini berdampak pada naiknya permukaan air laut di sebagian pantai. nyoroti ini memanfaatkan air pasang yang mengalir di sepanjang sungon, sehingga nyoroti ini hanya bisa di lakukan bila ada air laut yang pasang. Dari nyoroti ini petani diuntungkan dengan masuknya telor dan larva ikan-ikan yang hidup di laut, sehingga telor dan aneka larva ini setelah masuk ke tambak akan mengalami pembesaran dan tumbuh menjadi ikan dan rebon yang pada nantinya akan di panen petani tambak dalam pekerjaan bedahi.


 Seser / Serok (Repro ywahadiat)
14.  Nyrapat
Setelah nyoroti selesai dan air laut  masuk kedalam tambak, dalam rentang satu bulan biasanya tambak akan ada tanda-tanda membesarnya aneka ikan yang terbawa bersama air laut, kesempatan ini biasanya di manfaatkan petani tambak untuk nyrapat. Nyrapat adalah menjaring ikan regetan di tempat srapatan dengan bantuan alat jaring yang bernama anco dan seser (serok ikan). Pekerjaan ini sering dilakukan pada malam hari dengan diterangi lampu tambak yang bernama “teng”, dari sinar lampu teng yang terangnya sama dengan nyala lilin ini, ikan-ikan akan mendatangi tempat srapatan, mengingat hampir sebagian besar ikan menerima rangsang sinar pada waktu malam hari, sehingga ikan ini amat mudah terjaring.

15.  Ngipuk
Ngipuk adalah pekerjaan menebar nener/ anak bandeng ke dalam ipukan, dahulu kala penulis masih kecil ngipuk ini didahului membersihkan ipukan dari aneka jenis ikan regetan, karena kalau ipukan dihuni banyak ikan regetan nantinya akan memakan nener bandeng. setelah itu ipukan diisi air yang bersih dengan kadar garam yang cukup ideal bagi nener bandeng. Setelah nener bandeng ditebar di ipukan, biasanya petani memasang tempat perlindungan dari sengatan matahari yang disebut dengan istilah jawa “ aupan “, aupan inilah yang dipakai nener bandeng berlindung dan sebagai tempat menabur makanan nener bandeng yang berupa tepung beras ketan.
Prosesi ngipuk ini memiliki tradisi unik yang sekarang sudah tidak bisa dijumpai lagi.
Pertama-tama nener bandeng dibawa pengepul ke pembeli menggunakan wadah terbuat dari tanah yang di bakar/tembikar  menyerupai gentong air sekarang ini, wadah ini bernama “klempo”. Klempo ini kemudian dikasih air yang ditaburi garam, sehingga air ini memiliki rasa asin seperti asinnya air laut. Proses selanjutnya nener bandeng dihitung menggunakan gayung yang terbuat dari koek ( semacam kerang laut yang lebar). Dalam menghitung nener bandeng ini, pengepul memakan waktu yang cukup lama sekitar tiga jam-an, mengingat pembeli biasanya membeli nener bandeng jumlahnya ribuan, maka untuk mengakali agar tidak bosan dalam menghitungnya, pengepul dan membeli sama-sama menghitung nener sambil bernyanyi “ siji-siji loro-loro telu-telu papat-papat limo-limo “ sampai hitungan sepuluh, maka penghitung menjatuhkan satu kerikil atau mematahkan lidi sebagai hitungan sepuluh. Bisa dibayangkan kalau membelinya itu berjumlah ribuan, maka  sangat menjemukan sekali. Kalau yang menghitung itu berjumlah lima orang, maka suara yang ditimbulkan dalam menghitung nener bandeng ini sangat berisik sekali.
Setelah proses penghitungan selesai, maka nener bandeng dibawa ke tambak menggunakan wadah klempo yang di ikat tali dengan pikulan/ambatan, dan diatas klempo  ditutup dengan lemper(cobek dari tanah) yang diberi kembang bureh dan nasi buceng yang di kasih nama “among”. Among ini dikandung maksud agar nener bandeng ada yang momong  atau merawat. Dalam membawa nener bandeng  ke tambak, dibutuhkan pemikul yang jalannya halus dan tidak cepat/grusa-grusu, entah apa maksudnya tapi yang jelas penulis pernah bertanya kepada orang tua penulis tentang pemikul yang jalannya halus ini. nener adalah bayi dari ikan bandeng, maka cara membawa dan merawatnyapun  harus diperlakukan dengan halus layaknya bayi manusia. Ada kepercayaan yang cukup dianut turun temurun, Kalau membawanya dengan kasar dan tidak halus dikhawatirkan nener bandeng ini akan kaget dan berdampak pada matinya atau gagalnya pekerjaan ngipuk ini. Orang Jawa dahulu dalam mengolah alam masih menggunakan kaidah  barang siapa menyayangi alam, maka alam akan menyayanginya “, sehingga kearifan ini dahulu sangat dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, apalagi bandeng sebagai ikan kesayangan bagi petani tambak tradisional, sudah sewajarnya bila nener bandeng ini mendapat perlakuan khusus.
Kini  seiring perkembangan jaman, prosesi mengangkut nener bandeng sudah tidak lagi menggunakan cara-cara lama, melaikan nener bandeng ditaruh dalam wadah plastik yang diberi oksigen dan dibawa menggunakan sepeda motor yang jalannya sangat cepat dan bergoyang-goyang. entoh demikian nener bandeng ternyata juga tidak kaget atau mati.

16.  Jogo Tambak
Jogo atau menunggu tambak ini dilakukan bila bandeng dan udang windu dalam tambak sudah cukup besar, kalau tidak di jaga dikhawatirkan bandeng dan udang windu ini akan diambil pencuri.

17.  Ngrumat
Ngrumat atau merawat tambak ini bertujuan agar tambak bisa aman dan layak bagi perkembangan ikan dan udang didalam tambak, ngrumat ini biasanya bermacam-macam pekerjaan, diantaranya adalah memberi makan ikan  dan udang windu, membuang rumput liar yang tumbuh ditanggul tambak, sebab kalau tidak dibuang akan menjadi sarang ular yang dikawatirkan akan memangsa ikan di tambak. Kecuali membuang rumput para petani tambak biasanya membuang atau mengurangi perkembangan ganggang yang tumbuh lebat di blabakan tambak, sebab kalau tidak dibuang dan di kurangi, bandeng , ikan dan udang windu akan susah mencari makan akibat lebatnya pertumbuhan ganggang ini.

Macam macam  hasil  Tambak :
Komoditi Unggulan :
-          Bandeng
-          Udang Windu
-          Udang Panami
Komoditi non Unggulan (regetan) :
-          Terasi.
-          Berbagai jenis ikan semisal : Janjan, blodog, bloso, laosan, seren, kakap, blanak, kiper, tonang, buntek/buntel, mujair, keting, jambrong, sembilang, ilat/pipih,dan belut.
-          Bangsa kerapas semisal : kepiting, rajungan, empet/ketam, wideng, dan mimi.
-          Bangsa udang semisal : udang klotok, udang Putihan/Panami dan udang tombo ngompol/udang lipan, 



 Bandeng
Bandeng :
            Bandeng merupakan salah satu komoditas utama pada tambak tradisional, ikan yang satu ini sekarang menjadi brand salah satu kota di kabupaten Pati, tepatnya kota Juwana. Bahkan sekarang kota-kota besar di jawa seperti Semarang terkenal dengan bandeng prestonya, Gresik di Jawa timur terkenal dengan tambak air tawarnya. Bandeng ini sampai sekarang tetap menjadi andalan di tambak-tambak tradisioal dan semi tradisional.
 Udang Windu

Udang Windu :
            Udang windu menempati urutan ke dua komoditas unggulan di tambak-tambak tradisonal, sedangkan di tambak yang dikelola secara modern, windu merupakan komoditas yang paling utama. Udang windu dahulu ditambak tradisional bukan di besarkan dari pembesaran khusus, melainkan windu yang bibit telurnya dari laut  terbawa air asin yang masuk di dalam tambak dalam proses nyoroti. Kini kebanyakan tambak tradisional telah berubah  menjadi tambak semi, maksudnya adalah tambak yang didalamnya dibudidayakan bandeng  dengan windu.

Udang Panami / putihan

Udang Panami :
            Udang panami ini dahulu ketika penulis masih kecil terkenal dengan udang “putihan”. Udang panami  di ternak dan di tengkarkan pada pembibitan khusus, kemudian dijual ke petani tambak berupa benur (anak udang) untuk dibesarkan di tambak. Udang panami ini disebagian wilayah di jawa menempati urutan ketiga komoditas unggulan. 
Ikan Janjan


Janjan :
            Ikan yang satu ini menurut penulis adalah ikan yang paling enak rasanya, bentuknya bulat berdiamater 2 cm panjang sekitar 20 cm, warna punggung hitam kepucatan dan bagian bawah berwarna putih abu-abu. Ciri yang lain adalah tidak bersisik dan berlendir, sehingga kalau dipegang sangat susah karena licin. Ikan ini menjadi menu yang istimewa bila dibakar dengan arang kayu dan memakai bumbu pecel sambal terasi, ketika di bakar ikan janjan ini mengeluarkan minyak yang baunya sangat khas menggiurkan sekali, dan lebih greng lagi bila mencicipi perut dan ususnya yang terasa amit-amit legitnya. Untuk membakar ikan janjan biasanya  di tusuk terlebih dahulu menggunakan lidi dari mulut sampai ekor, sehingga ikan janjan  setelah matang bentuknya lurus dan tidak bengkok.

 Ikan Blodog
Blodog :
            Blodog atau glodok termasuk salah satu ikan aneh yang pernah penulis jumpai kala itu, mengapa demikian, karena ikan blodog ini mampu berjalan diatas lumpur menggunakan kedua siripnya, kecuali itu ikan blodog juga mampu meloncat tinggi bak terbang di angkasa. Mempunyai ciri-ciri mata yang nongol keluar, badan berwarna abu-abu bertotol-totol hitam bercak putih bersirip punggung lebar, dan lebih suka diatas lumpur dari pada di dalam air. Ikan blodog ini rasanya kurang enak, dagingnya kurang gurih.

 Ikan Bloso
Bloso :
            Ikan bloso sekilas hampir sama dengan blodog, cuma yang membedakan warna bloso ini lebih bening dan agak kecoklatan kemerah-merahan. Bloso ini lebih suka di dalam air daripada di atas lumpur, rasa ikan bloso juga kurang gurih namun memiliki ukuran telur yang besar. Ikan bloso ini dalam mencari makan sangat rakus sekali, terutama jenis udang. Maka sangat beralasan bila petani tambak sering menangkap bloso ini meski ukurannya belum besar, mengingat nantinya akan memangsa udang windu yang belum besar, atau boleh dikata ikan bloso ini termasuk ikan hama.
 Ikan Laosan

Laosan :
            Laosan termasuk jenis ikan hama yang rakus memakan jembret/rebon terasi dan udang kecil, laosan ini kalau tidak segera di ambil keberadaannya mengancam windu yang masih kecil. Laosan mempunyai badan yang panjang putih keperak-perakan, dengan sirip menantang berwarna kuning dipinggirnya. Laosan ini dahulu dapat dijadikan lauk bagi anak-anak yang mengalami masa penyembuhan sunatannya ( tarak ), karena rasa dagingnya yang anyep dan tidak gurih.
Seren :
            Ikan ini postur tubuhnya mungil hanya seukuran  dewasa 4-5 cm dengan diameter 1 cm. Ikan seren biasanya menyangkut jaring jenis anco, sehingga petani tambak sering menyabutnya dari jaring anco. Seren ini oleh petani tambak sering dibuat ikan kering (gerih). Kebiasaan seren ini hidup bergerombol kesana kemari didalam tambak, seren menjadi santapan bagi ikan kakap.

 Ikan Kakap
Kakap :
            Kakap yang hidup ditambak biasanya kakap jenis putih dan bukan kakap yang berjenis merah, kakap termasuk ikan hama yang harus secepatnya ditangkap, karena rakusnya memakan windu kecil dan ikan kecil lainnya. Kakap ini sering dimasak goreng bumbu acar, karena rasa dagingnya yang tebal dan cukup gurih. Saat ini kakap menjadi menu andalan di restauran-rentauran mahal dengan aneka masakan dan bumbu yang berfariasi.

 Ikan Blanak
Blanak :
            Blanak termasuk salah satu ikan yang sengaja dibiarkan hidup di tambak, karena ikan blanak tidak memakan ikan-ikan yang lain, melainkan blanak hanya memakan lumut, ganggang, dan klekap. Klekap adalah semacam lumut yang terapung di permukaan air tambak.

 Ikan Kiper
Kiper :
            Kiper masuk dalam kategori ikan bukan hama, sehingga kiper ini dipertahankan di dalam tambak. Kiper mempunyai badan tipis dan sisinya bulat, berwarna abu-abu mengkilat kehijauan dengan totol hitam menyerupai belang macan tutul, sirip punggung ikan kiper kuat dan runcing, sisik ikan kiper ini sangat kecil dan lembut, sehingga kalau dipegang terasa kasar seperti amplas. Kiper termasuk jenis ikan yang legitnya amit-amit, terutama di bagian perut dan ususnya, menu yang cocok ikan kiper ini diolah kuah bumbu asem dengan  pengharum daun singkil, sehingga terkenal dengan “sup singkil ikan kiper “.

 Ikan Tonang
Tonang :
            Sekilas bagi orang yang tidak tahu, tonang ini dianggap ular laut. Sebab bentuk fisik tonang ini memang seperti ular, namun bila diperhatikan lebih seksama tonang berbeda dengan ular, tonang bersirip depan dan beringsang, sementara ular tak bersirip dan beringsang. Tonang ini memiliki panjang yang umum sekitar 30 – 40 cm dengan diameter sekitar 3 cm. Tonang  memiliki sisik halus seperti ikan kiper dan berkulit ulet seperti kulit ular. Untuk memasaknya perlu diolah terlebih dahulu dengan mengulitinya, setelah itu tonang dibelah bagian perutnya dan di pipihkan dengan di pukul-pukul memakai kayu.  dikandung maksud agar duri ikan tonang remuk.

Ikan Buntek

Buntek / Buntel :
            Ikan yang satu ini di kenal beracun, racun ikan buntel ada di ujung  sirip yang runcing .namun dibalik semua itu ikan buntel menyimpan keindahan bila ikan buntel menggembungkan badannya sebagai reaksi panik dan menakuti lawan-lawannya. Ikan ini mempunyai kemampuan khusus memompa udara dari mulut masuk dalam tubuhnya, sehingga ikan buntel menggembung bulat seperti bola kasti terapung diatas permukaan air tambak. Ikan buntel berkulit sangat ulet dan lentur seperti karet tipis. Sekilas ikan buntel kalau dipegang badannya sangat kasar seperti amplas, ciri warna ikan ini adalah hitam abu-abu dengan lurik coklat tua menyerupai lurik kuda zebra, ikan ini dahulu ketika penulis masih jadi petani tambak sering membuangnya dan tidak dijadikan lauk pauk, takut kalau dimakan akan meracuni tubuh, tapi sebenarnya ikan ini bisa dimakan, yang beracun bukan dagingnya namun ujung siripnya.

 Ikan Mujahir
Mujahir :
            Ikan mujahir ini cukup populer di kalangan petani, mengingat ikan mujahir ini bisa hidup di dua perairan asin dan tawar, sehingga keberadaannya mudah diternak di kolam atau di tambak. Mujahir ini berkerabatan dengan ikan gurami, Cuma gurami hanya bisa diternak di air tawar saja. Perkembangan mujahir terhitung sangat cepat, terbukti bila di tambak ada 3-4 mujahir, sudah pasti sebentar lagi akan ada anak-anak mujahir yang banyak sekali.

 Ikan Keting / Lundu
Keting / Lundu:
            Keting ini mirip saudaranya yang hidup dilaut yaitu Dokang atau Manyung, Cuma bedanya keting tidak bisa tumbuh besar seperti dua saudaranya, keting hanya bisa tumbuh di tambak berkisar 4 cm dan panjang 20 cm. Keting termasuk jenis ikan non sisik seperti lele,dokang, patin, belut, janjan dan blodog, keting termasuk ikan yang kurang disuka para petani tambak mengingat keting memiliki senjata tumbak runcing yang terkenal dengan sebutan “patil”, maka ikan keting keberadaannya di tambak harus segera di hilangkan, ikan keting yang mati tertinggal di areal tambakpun masih berbahaya bagi tubuh manusia, karena patil yang tertinggal di tanah tambak sewaktu-waktu bisa terinjak kaki para petani. Ciri keting ini sama seperti kerabat dekatnya, lele, patin dan dokang yang sama-sama berkumis,kumis ini berguna membantu pengindraan, mengingat mata keting kurang peka terhadap rangsang pengindraan. Keting ini setelah dewasa bernama “Lundu

 Ikan Jambrong
Jambrong :
            Jambrong atau jambrung berpenampilan garang dengan sirip runcing dan seluruh tubuhnya bersisik lembut serta dengan ciri berdoreng hitam dan putih. Jambrong ini berkerabat dengan ikan kuniran, Cuma bedanya ikan kuniran berwarna merah jingga. Jambrong ini bermata lebar  dan bulat dengan gerakan cepat dan gesit. Jambrong ini dimata petani tambak sebagai ikan hama yang menghabiskan jembret/rebon dan udang di dalam tambak.

Ikan Sembilang

Sembilang :
            Sekilas sembilang ini mirip persis dengan ikan lele, dari segi rupa kulit berwarna coklat kemerahan. Yang membedakan antara lele dan sembilang adalah ekornya, lele mempunyai sirip perut dan punggung  yang terputus dengan ekor, sedangkan sembilang mempunyai sirip punggung dan perut yang menerus ke belakang sampai menyambung dengan ekor. Sembilang termasuk ikan yang paling ditakuti petani tambak, mengingat patilnya sangat beracun dan mematikan, sudah barang tentu sekali terpatil tak jarang para petani sampai menangis-nangis gara-gara tak kuasa menahan rasa sakitnya yang luar biasa, bahkan bisa berujung dengan kematian. Itulah sebabnya ikan ini tak ada yang berani memegangnya sewaktu masih hidup, menangkapnyapun harus menggunakan alat dan sebisa mungkin menghindari kontak langsung.

 Ikan Ilat
Ilat/Pipih :
            Ikan yang satu ini memiliki julukan ilat(lidah) mengingat bentuknya yang tipis, coklat seperti lidah. Saking tipisnya ikan ini tubuhnya mempunyai ketebalan kurang dari 1 sampai 1 cm. Ikan ini mempunyai dua sisi, sisi atas dan bawah. Sisi atas terdapat dua mata dan sirip tengah dan warnanya agak gelap. Sedang bagian bawah  digunakan sebagai alas ketika ikan ini berada di dasar tambak dan berwarna agak kepucatan.
Belut

Belut :
            Belut tambak dan belut sawah hampir tidak ada bedanya, cuma mereka ada yang hidup di tambak yang notabene hidup di air asin sedangkan belut sawah adalah belut yang hidup di sawah yang berair tawar. Belut ini termasuk salah satu jenis ikan yang paling penulis senangi, mengingat kandungan gizinya yang luar biasa, bahkan konon ikan belut ini mampu menyembuhkan sakit asma. Cara mengolah belut hampir sama dengan mengolah ikan tonang, cuma bedanya belut tidak usah mengulitinya seperti  ikan tonang. Belut yang dimasak dengan proses pengasapan dan dibumbu  mangut gurihnya amit-amit !.
 Kepiting

Kepiting :
            Di Demak Jawa tengah banyak tambak-tambak tradisional kini berubah menjadi tambak-tambak yang di peruntukkan khusus penggemukan hewan yang satu ini, proses awal adalah dengan memutus supit dan kaki jalan, sedangkan kaki dayung dibiarkan masih menempel tubuh kepiting ( proses ini terkenal cutting ). Kemudian kepiting-kepiting yang telah di cutting kaki dan supitnya ini di masukkan ke keramba didalam tambak, oleh proses alamiah kepiting-kepiting ini mengalami ganti cangkang ”mlungsungi” atau dalam bahasa lain disebut “moulting”. Dalam masa moulting ini seluruh cangkang kepiting akan berubah menjadi lunak, oleh petani kepiting ini disebut istilah kepiting lemburi/ngglemburi. Kepiting dewasa ini menjadi komoditas ekspor diberbagai negara konsumen, seperti jepang dan eropa. Khusus di desa penulis kepiting tambak dahulu diperoleh bukan melalui pembesaran terlebih dahulu, melainkan asalnya telur kepiting yang ikut hanyut air pasang laut yang masuk ke dalam tambak, sehingga bila petani kepingin menangkapnya biasanya menggunakan pancing. Pancing kepiting ini tidak menggunakan kail pancing seperti pada pancing ikan, melainkan menggunakan potongan tubuh belut sekitar panjang 3 cm, kemudian potongan belut  di ikat menggunakan tali dari senar yang ditambatkan pada tongkat kayu yang ditancapkan di tanggul tambak, potongan belut tadi kemudian di lempar di caren sebagai umpan. Tidak beberapa lama biasanya kepiting ini akan menyeret potongan belut untuk disantap. Potongan belut yang diseret kepiting ini akan mengakibatkan tali senar menjadi tegang, sehingga menjadi pertanda kalau umpannya dimakan kepiting. Petani kemudian menarik tali senar secara pelan-pelan dan setelah kepiting terlihat barulah kepiting diserok memakai seser. Watak kepiting yang tidak mau melepas umpan inilah yang mengakibatkan kepiting mudah untuk di serok. Kepiting tambak ini sering mencederai petani tambak yang melakukan kerja nyongklo, biasanya kepiting tambak ini menyupit tangan dan kaki, setelah itu kepiting akan memutus supit yang telah menjepit, dan tubuh kepiting melarikan diri, dalam IPA terkenal dengan istilah “autotomi”. sehingga untuk melepasnya dari tubuh petani biasanya dengan jalan di gigit menggunakan gigi. Setelah supit kepiting pecah karena gigitan petani, biasanya supit mudah dilepas. Peristiwa disupit kepiting ini penulis pernah alami berkali-kali sewaktu penulis membantu pekerjaan orang tua di tambak, sehingga peristiwa digigit kepiting ini memiliki kesan tersendiri bagi penulis kecil.

 Rajungan
Rajungan :
Rajungan di tambak proses masuknya sama seperti kepiting, yaitu melaui telur yang terbawa air asin ke dalam tambak, menetas dan besar ditambak. Rajungan ini postur tubuhnya lebih ramping dan agak kecil dibandingkan dengan ukuran kepiting, rajungan memiliki ciri warna yang agak ramai bila dibandingkan dengan kepiting, rajungan memiliki warna dasar abu-abu dengan totol-totol putih membentuk pola tertentu, biasanya diselingi warna biru dan kemerah-merahan, sedangkan kepiting hampir didominasi warna hijau dengan sedikit kuning jingga di tepi supitnya.

 Empet
Empet / Ketam :
            Empet/ketam adalah termasuk keluarga kepiting, namun ukuran dewasa hanya sekitar 3-4 cm, ciri warna empet umunya berwarna coklat tua. Empet biasanya hidup di permukaan air tambak, berbeda denga dua saudaranya kepiting dan rajungan yang lebih banyak didalam air dan lumpur. Empet ditangkap dengan cara di serok atau di pancing memakai potongan ketela pohon yang diikat dengan tali dan di sentuhkan dengan badan empet, setelah empet mencengkeram barulah tali pancing diangkat. Empet sering diolah petani dengan bumbu “docang”. Docang ini adalah menu terbuat dari sambal terasi yang diberi parutan kelapa, setelah itu empet di bakar atau direbus dan di ulek kasar pada sambel dan parutan kelapa tadi. Docang empet ini lezatnya luar biasa, ini tak lain karena empet memiliki lemi (lemak alami yang berwarna kuning terdapat pada sisi dalam tempurung empet).
 Wideng

Wideng :
            Wideng ukurannya lebih besar dari pada ukuran empet, lagi pula wideng lebih tebal tubuhnya, sedangkan empet tubuhnya agak gepeng. Wideng ini warnanya hijau agak kehitaman, kebiasaan hidup wideng  lebih banyak dihabiskan di daratan/tanggul tambak dan pantai, sesekali berlindung di lobang sebagai rumahnya. Wideng termasuk binatang nokturnal (aktif dimalam hari). Wideng jarang dimakan orang, mengingat daging wideng sering menimbulkan pusing kepala ( mendem/jawa ). Wideng terkenal dengan larinya yang super cepat, maka tidak mudah menangkap binatang yang satu ini.
 Mimi

Mimi :
            Mimi atau kepiting ladam sebenarnya bukan berasal dari hasil tambak, melainkan mimi sebanarnya adalah berasal dari laut yang ikut terseret air pasang dan terdampar/ nyangkut disaringan air ngaban. Sehingga petani sering menemukan kepiting jenis ini berpasangan dengan jenis kelamin jantan dan betina, kepiting mimi ini biasanya selalu berpasangan, sehingga kalau ada pengantin baru di desa penulis biasanya di doakan agar rukun seperti mimi dan mintuno, maksudnya mimi berkelamin jantan dan mintuno berkelamin  betina. Kepiting mimi ini termasuk kategori kepiting dengan ukuran yang besar, bisa mencapai diamater 25 cm dengan ketebalan 5 cm. Berwarna coklat dan berbuntut tumbak yang lancip. Daging mimi kurang lezat menurut lidah penulis, akan tetapi mimi memiliki telur yang bergerombol seperi buah buni, dan telur inilah sebenarnya yang dicari para petani untuk dioleh menjadi masakan pepes telur mimi.
 Udang Klotok

Udang Klotok :
            Udang Klotok adalah hasil tambak tradisional menempati urutan ke tiga setelah bandeng dan windu, udang klotok pertumbuhannya sangat cepat. Udang klotok ini di ambil dari tambak pada waktu nyrapat, nyoroti dan nyongklo yang terjaring bersamaan dengan jembret/rebon. Udang klotok sangat mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional, karena udang klotok kebanyakan di jual untuk keperluan konsomsi, dan bukan komoditas eksport. udang ini di olah menjadi aneka masakan, misalnya peyek udang, botok udang, pecel udang, pepes udang, masin udang dll.


Udang Putihan / Panami :
            Udang Panami atau dahulu disebut udang putihan, karena warnanya memang putih, dengan ujung ekor dan ujung kaki berwarna merah. Udang ini sejak dahulu memang untuk eksport, sehingga sangat sukar di cari di pasar-pasar tradisional, dan jumlah populasinya di dalam satu tambak sangat terbatas tidak seperti udang klotok yang memang populasinya sangat melimpah. Udang panami ini dagingnya enak dan empuk berbeda dengan udang klotok yang dagingnya agak keras.
 Udang Lipan

Udang Lipan :
            Udang lipan atau di Jawa terkenal dengan sebutan udang tombo ngompol, ini di percaya mempunyai khasiat menyembuhkan kelainan pada anak yang pada malam hari suka ngompol, entah benar atau salah kepercayaan ini sampai sekarang masih dipegang sebagian besar masyarakat terutama di jawa. Udang ngompol  sebenarnya bukan species tambak, melainkan species udang yang hidup di laut yang berpasir dan berair bening. Udang lipan sekilas seperti udang lopster, namun kepala dan ekornya serupa, sehingga orang yang tidak terbiasa melihat udang lipan susah menbedakan antara kepala dan ekor. Udang lipan biasanya dalam satu tambak tidak banyak paling-paling sekitar lima sampai sepuluhan.

2 komentar: